1/27/2018

SINOPSIS Mother Episode 1 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

DRAMA SEBELUMNYA || SINOPSIS Longing Heart
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 1 Part 2

Malam itu, udara sangat dingin.. salju turun lebat, dicampur dengan angin laut yang cukup kencang. Di pesisir laut, terdengar suara sirine yang lumayan nyaring dan ada banyak petugas polisi disana.


Kemudian, kita melihat seorang wanita tengah duduk sendirian dalam ruangan yang dijaga oleh polisi. Tak lama kemudian, seorang detektif masuk, dia menunjukkan tas sekolah dalam kondisi basah lalu dia bertanya: “Apakah ini, tas milik putri anda? Apakah dia bernama Kim Hye-na, dari kelas 1-3?”


Sekilas, kita pun melihat seorang gadis kecil yang tengah berdiri di pinggir laut, menggenggam sehelai bulu berwarna putih... lalu terbersit momen-momen singkat yang berkaitan dengannya~~~

-------------------------------------------
[ Satu Bulan sebelum Menghilangnya Hye-na ]

Soo-jin (Leee Bo Young), yang merupakan seorang ornitologis (‘peneliti butung’) tengah serius mengamati pergerakan burung lewat kamera khusus miliknya. Sejenak dia berjalan disekitar, lalu dia pun memasuki mobilnya untuk pergi ke kantornya.


Disana, tepatnya di depan pintu.. telah tertulis informasi bahwa sebentar lagi tempat ini akan ditutup. Beberapa orang, sibuk mengemasi barang-barangnya, tapi Soo-jin masih asyik dengan komputernya. 


Salah satu rekan kerjanya, yang bernama Eun-chul (Kim Young Jae) menghampirinya dan bertanya, mengapa Yoo-jin terlihat begitu santai?

Bukannya dijawab, Yoo-jin malah bertanya balik: “Memangnya, waktu kita tinggal berapa hari lagi?”
“Akhir bulan ini, maksimal..” jawabnya, yang kemudian bercerita mengenai dirinya yang akan pindah ke Projek di Pasific Seasonal Migration. Dia pun menunjukkan alat GPS yang baru didapatkannya, yang sangat canggih untuk bisa membantu pekerjaannya, “Kamu sendiri, apa yang akan kamu lakukan?”

Yoo-jin bilang, dia akan menyelesaikan pekerjaannya (dia kumpulin semacam ring gitu, katanya baru ada 9 dari 20), lalu melakukan hal apapun yang ingin dia lakukan. 

“Kalau kita berhenti digaji, bagaimana kamu akan mengatasinya?”

“Aku harus mengupayakan semuanya sebisaku, dengan memanfaatkan apa yang sudah kupelajari...” jawab Soo-jin


Ternyata, selain menjadi seorang ornitologis... Soo-jin juga mengajar di sebuah SD. Kali ini, dia mencoba menjelaskan ‘bagaimana burung bisa terbang’. Tapi sikap dan bahasanya yang kaku, membuat para siswa kebingungan. Didepan siswa SD, dia menyebutkan kalimat ‘penampang melintang’, yang kesannya memang terlalu ilmiah--


Seorang siswa bertanya, apa maknanya kalimat itu? Soo-jin akan menjelaskannya sambil duduk.. tapi ‘kwakkkk’, terdengar bunyi itu ketika dia menduduki kursinya yang sontak membuat seluruh siswa tertawa, kecuali seorang gadis bernama Hye-na (Heo Yool) yang malah menatapnya iba. Ternyata, ada sebuah boneka bebek, yang sengaja disimpan disana..


Di ruang guru, Soo-jin kaget karena mendengar kabar dari kepala sekolah yang memintanya menjadi wali kelas padahal sebelumnya dia hanya ditugaskan untuk menjadi guru Sains. Rencana awalnya memang begitu, tapi wali kelas 1-3 mengambil cuti hamil dan sekarang sudah akhir semester, jadi agak sulit untuk mencari penggantinya.


Untung saja, Ye-eun yang juga seorang guru disana, bersikap sangat ramah dan bersedia membantu Soo-jin untuk menyusun bahan mengajar. Siang ini, dia memberikan usul supaya Soo-jin menugaskan muridnya menulis surat untuk Oh-cheol yang merupakan bebek yang dibesarkan dan dirawat oleh siswa kelas 1-3, tapi telah meninggal pagi tadi.


‘Surat untuk Oh-cheol yang telah berada di Surga’


Ketika para siswa mengerjakan tugasnya, Soo-jin berkeliling untuk memeriksa.. tapi langkahnya, terhenti disamping bangku Hye-na yang ternyata tak menulis apapun dan malah mencoret-coret kertasnya, “Hye-na, kamu tak menulis surat?”

“Bu guru.. Sesuatu yang telah mati, tidak akan bisa membaca. Lagipula, Surga itu tidak ada..” jawab Hye-na


Tiba-tiba seorang siswi menangis, “Oh-cheol kasihan sekali..” ucapnya

Sementara kebanyakan siswa lainnya, malah bersikap sama seperti Hye-na: “Bu, bebek itu enggak bisa baca..” ujarnya

Sambil tertawa, ada juga yang mengatakan, “Hai bebek. Karena sekarang kamu sudah mati, kamu enggak bisa BAB ‘kan??”


Soo-jin meminta siswanya untuk kondusif, dia berjalan kedepan kelas lalu menjelaskan: “Jika kita sudah meninggal, kita tidak bisa bernafas.. juga tidak bisa makan dan kita juga tidak bisa BAB. Dan tentu saja, tidak akan bisa membaca surat. Tapi Oh-cheol itu bebek yang kalian rawat sejak dia masih kecil, jadi ketika bebek itu meninggal secara tiba-tiba, pasti kalian merasa sedih dan kalian juga merindukannya. Tulislah hal semacam itu di surat kalian, karena dengan surat seperti itu, maka kesedihan dan kerinduan kalian mungkin akan berkurang.. kalau tidak mau menulis surat, ya tidak masalah. Lagipula Oh-cheol tak bisa membacanya...”

Mendengan penjelasan Soo-jin, membuat Hye-na melihatnya dengan tatapan penuh kekaguman---


Sudah saatnya pulang, seluruh siswa berlarian.. ada yang tertawa bersama temannya, ada pula yang jahil menyenggol Soo-jin kemudian sambil cekikikan menyebutnya cantik, ‘kami mencintaimu..’ ucap mereka


Tetapi Hye-na berbeda.. dia tak memiliki teman, dia pulang seorang diri. Tanpa mengucap kata apapun, dia menghampiri Soo-jin lalu memberikan secarik kertas dan berjalan pergi.


...........
Rahasia dibalik kematian Oh-cheol,
Ada yang bilang kalau bebek dikasih makan coklat sama terigu, si bebek pasti akan mati. Makanya Joo Hyuk dan Jang Min Suk kasih makan itu ke si bebek
...........


Di kantornya, Soo-jin berbagi cerita dengan Eun-chul. Dia bilang, dirinya telah mendaftarkan diri ke beberapa organisasi peneliti Burung dan dia berharap untuk bisa diterima di Islandia yang sangat tertarik untuk meneliti burung Urai. Sekarang dirinya telah mengumpulkan 12 *ring (?) berarti tinggal 8 lagi yang harus dia cari.

Tetapi Eun-chul malah bertanya mengenai hal lain, “Apakah kamu tak tertarik untuk bergabung dalam komunitas masyarakat, seperti yang lainnya? Apa kamu tak ingin menetap di satu tempat, mencari pasangan dan punya anak?”

“Lagipula 10 persen dari populasi hewan juga hidup sendiri..” jawab Soo-jin


Di rumah sakit, seorang wanita keluar dari ruang periksa. Bersamaan dengan itu, ada seorang pria yang berjalan mengejarnya dan bertanya: “Apakah itu kanker?”. Wanita itu tak menjawabnya, dab malah memintanya untuk mencari Soo-jin. 

“Tapi sudah lama kita tak berhubungan dengannya..”
“Aku ingin, putriku Soo-jin menjadi orang pertama yang mengetahui hal ini..” ujarnya


Di kelas, seorang siswi tengah membacakan cerita.. sementara siswa lainnya malah asyik meng-estafet-kan sampah-nya ke meja Hye-na.   Soo-jin menyadari hal itu, dia pun berjalan menghampiri Hye-na yang dipunggung-nya telah tertempel sticker bertuliskan ‘sampah’...
Setelah melepaskannya, Soo-jin bertanya: “Siapa yang melakukan ini?”


Seorang siswi tiba-tiba mengacungkan tangan, “Bu guru.. aku tidak mau makan disebelah Hye-na”
“Kenapa?”
“Kukunya sangat kotor..” jawabnya, yang seketika langsung membuat Hye-na menunduk melihat kukunya sendiri yang memang tak terurus.


Beberapa saaat kemudian, Soo-jin berbicara dengan dua orang siswa (Joo Hyuk & Jang min Suk) yang dia suruh berdiri di depan kelas. 

“Kalian tahu, apa pekerjaan ibu?”
“Peneliti burung..” jawab mereka
“Ibu tahu banyak hal tentang burung. Tapi tahukah kalian, caranya Oh-cheol meninggal itu mencurigakan. Padahal ‘kan, bebek tidak mati semudah itu. Tapi saat ibu mengamatinya, ibu sadar kalau bebek itu tiba-tiba banyak makan dan sering muntah. Mungkin saja, ada orang yang memberinya makanan yang seharusnya tidak boleh dimakan. Misalnya coklat atau tepung terigu..”
“Tapi itu bukan teung terigu... itu permen gula...” sanggah seorang anak

“Ibu punya cara untuk memastikannya. Ibu bisa menambil bangkai Oh-cheol, membedah perutnya dan mengecek idi  di dalamnya. Dan ibu juga bisa melihat remakaman CCTV.. untuk mengetahui siapa yang memberi makan Oh-cheol. Haruskah ibu meakukannya atau tidak?”
“Jangan bu guru...”

“Kalau begitu, kalian bisa janji satu hal? Jang mengganggu binatang, wanita atau siapa pun yang lebih lemah dari kalian..”
“Baik bu...”


Sepulang mengajar, Soo-jin ke supermarket untuk belanja bahan makanan. Tetapi spontan, matanya tertuju pada alat yang digunakan untuk menggunting kuku..


Malam hari, Hye-na ditemani hamster-nya duduk seorang diri ditempat gelap gulita. Dengan menggunakan senter, dia menerangi selembar brosur restoran pizza yang digunakannya sebagai bahan belajar membaca. Meskpiun di eja, tapi Hye-na bisa membacanya padahal ada beberapa huruf konsonan yang agak rumit dan dengan bangga dia menceritakan itu pada hamster-nya.


Disebuah kafe, Soo-jin duduk sendiri menikmati segelas kopi dan pizza. Tiba-tiba, dia dikejutkan oleh kemunculan Hye-na yang tengah berdiri disamping kaca tempatnya duduk sekarang sambil tertawa cekikikan.


Hye-na masuk dan duduk dihadapan Soo-jin, “Bu guru kaget ‘kan..”
“Kenapa jam segini masih jalan sendirian diluar?” tanya Soo-jin
“Dari dulu, sejak usia 5 tahun aku memang biasa jalan sendirian...” jawab Hye-na dengan riangnya
“Ibumu tidak marah?”
“Dia belum pulang”


Kemudian, Hye-na memakan roti yang dia bawa. Tak lupa dia menawari Soo-jin, tapi Soo-jin bilang dia tak suka roti kacang merah.
“Padahal rasanya enah..” ucap Hye-na sambiil melirik pizza ditangan Soo-jin


Akhirnya, Soo-jin memberikan sepotong pizza untuk Hye-na dan dengan antusias Hye-na memakannya, lalu kepada hamsternya dia bercerita kalau pizza itu rasanya sangat enak, “Seperti pizza buatan chef Italia. Kamu tahu ‘kan.. Napoli pizza..” ujarnya mengulang kembali kalimat yang dia baca dari brosur tadi. Mendengarnya, spontan membuat Soo-jin tersenyum.


“Ibu tersenyum, baru kali ini aku melihat ibu tersenyum..” ucap Hye-na yang kemudian mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam tas-nya, “Ini catatan yang isinya semua hal yang kusuka. Jika aku menulis ini, maka aku tak akan melupakannya dan kapan pun aku bisa membacanya. (Jika diibaratkan) seperti kulkas..” jelasnya

“Apa saja yang sudah kamu tulis disana?” tanya Soo-jin


Hye-na membuka catatannya lalu menyebutkan isinya satu per-satu: ‘jalan miring dan melengkung’, ‘koper yang ada rodanya’, ‘suasana saat balon yang ditiup membesar’, ‘kunci dan gemboknya’, ‘kopi latte’..
“Apa?”


“Kopi latte.. aku sangatt menyukainya..” ucap Hye-na
“Anak kecil tidak boleh minum kopi..”
“Tapi aku baik-baik saja,”
“Kalau anak kecil minum kopi, mereka tidak bisa tidur nyenyak dan kopi juga tidak baik untuk otak”
“Benarkah? Kalau bu guru, apa saja keesukaan ibu?”
“Makan sendirian dengan tenang..”


Jawaban itu, spontan membuat Hye-na langsung tertawa sambil menutup bibirnya dengan tangannya. Soo-jin ikut tersenyum, lalu dia memberikan gunting kuku yang tadi dia beli sambil mengatakan, “Kim Hye-na.. dengar baik-baik apa yang ibu katakan. Potong kukumu, seminggu sekali. Keramas rambutmu, tiap tiga hari sekali. Lap mulutmu sehabis makan, ganti kaus kaki dan pakaian dalam sekali sehari. Dan jika tidak punya banyak pakaian, cobalah ganti-ganti pakaiannya. Anak yang kotor, pasti akan di-bully. Karena itu pertanda tidak ada yang merawatnya. Jadi kamu akan dianggap sebagai target yang gampangan. Menurutmu apa yang perlu kamu lakukan jika tidak ada yang menjagamu?”

Hye-na menjawabnya degan gelengan kepala, lalu Soo-jin lanjut berkata: “Kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Banyak anak yang bisa seperti itu, jadi ibu yakin, kamu juga bisa.”

Mengambil gunting kuku itu, Hye-na bertanya: “Apa. Bu guru tahu caranga memotong kuku saat berusia delapan tahun?”


Duduk diluar, Hye-na tersenyum karena Soo-jin memotongkan kukunya dengan telaten. Hingga tiba-tiba, lewatlah seorang wanita tua (sebut saja hameoni), yang langsung menggerutu marah-marah pada Soo-jin: “Dasar jahat! Kau jahat pada ibumu sendiri, tapi beraninya kau menginginkan anak orang lain, hah?!”


Halmeoni itu menarik Hye-na, lalu berkata: “Kau itu layak hidup sendiri selamanya tanpa pernah punya anak sendiri!”
“Halmeoni.. dia ini guruku dan aku sangat menyukainya..” ujar Hye-na


Berikutnya, kita melihat Hye-na berjalan pulang menuju rumahnya dengan langkah yang bergitu ceria. Tapi ketika membuka pintu dan melihat sepasang sepatu pria, dia melangkah perlahan.. dia melirik kesamping, dimana terdapat seorang pria yang tengah asyik bermain games dalam kondisi ruangan yang gelap gulita.


Meskipun telah mencoba berhati-hati, tetapi tak sengaja Hye-na menyenggol sebuah benda hingga terjatuh. Dia pun terdiam.. lalu melirik pria itu dengan tatapan penuh rasa takut.
Advertisement


EmoticonEmoticon