1/22/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 7 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 7 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 Part 4
Oh Gong terserang flu, menurutnya itu karena dia terkena salju. Tapi Ma Wang mengatakan tubuh Oh Gong bukan tipikal yang mudah terserang flu. Mendengar hal itu, Oh Gong menyalahkan Bu Ja, karena Bu Ja lah yang memberi tahu Oh Gong kalau itu adalah flu menurut pengalaman Bu Ja sewaktu hidup.

“Benar flu, kok. Tubuhmu agak demam setelah kena salju dan katamu tenggorokanmu terasa gatal. Karena aku sudah mati, aku tidak bisa kena flu lagi, tapi aku ingat rasanya saat terserang flu.”
“Bagaimanapun, aku tidak merasa kurang baik gara-gara flu ini. Seandainya aku bisa minum sake hangat (alkohol tradisional Jepang), maka aku akan baikan.”
Ma Wang mengatakan flu itu penyakit yang terlalu biasa, jadi mungkin ada kemungkinan penyakit yang lebih serius. Oh Gong menyangkal hal itu, dan dia heran melihat Ma Wang yang selama bicara sering mengedipkan sebelah matanya.
“Kenapa? Kau senang aku sakit?”
“Tentu senang.”
“Rasa senang itukah yang membuatmu terus mengedipkan mata kepadaku selama beberapa menit terakhir?”
“Ini efek samping obat dan semua itu karenamu!” 


“Mengerikan. Maaf. Supaya kau lebih nyaman, mau aku menirukanmu?” Oh Gong berbicara sambil mengedipkan sebelah matanya, dia lalu mengajak Bu Ja dan Oh Jeong untuk melakukannya juga.
“Tapi, baru-baru ini mataku terus saja meloncat keluar, jadi aku tidak bisa mengedip dengan baik.” Saat melakukannya, Bu Ja tampak kesulitan.
Melihat mereka semua menirukannya, Ma Wang menjadi sedikit kesal.
“Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Ini akan segera membaik.”


Ma Wang lalu mengatakan kepada Oh Gong kalau sesuatu yang sangat menyenangkan akan segera terjadi.
“Sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Selagi membicarakannya, aku berencana untuk mengundang seseorang ke rumah ini.”
“Siapa yang kau undang?”
“Dia seorang sutradara film asal Amerika. Dia sangat pintar dan juga sopan. Tapi karena mengundang manusia, maka aku akan membutuhkan bantuan manusia juga. Aku juga berencana mengundang Sam Jang. Tak apa kan, Dewa Agung?”
“Lakukan semaumu.”
“Kalau begitu, mari undang mereka berdua agar dapat bertemu.”


Lalu Ma Wang membayangkan adegan jika Seon Mi dan Jonathan bertemu. Mereka berdua akan berdansa diiringi lagu romantis.


Karena Ma Wang terus mengedipkan matanya, Oh Gong menjadi kesal dan mengatakan akan memukul mata Ma Wang.
“Tidak usah. Mataku akan segera membaik. Kau khawatirkan saja matamu sendiri.” Ucap Ma Wang sambil menahan matanya agar tetap terbuka.


Tiba-tiba Bu Ja bisa menirukan Ma Wang, tapi pupil mata Bu Ja menghilang dan hanya menampakakkn bagian mata yang berwarna putih saja.
“Sekarang aku bisa melakukannya! Tapi, aku tidak bisa membuka mataku.”
“Aih... aish... kau membuatku kehilangan selera pada supnya!” Oh Gong menjadi bertambah kesal melihat mata Bu Ja.
“Bu Ja-ya, matamu tergulung ke arah kepalamu.” Ma Wang dengan baik memberi tahu Bu Ja.
“Maafkan aku. Kenapa mataku terus saja meloncat keluar dan tergulung ke arah kepala?”
“Kau juga, kenapa menyuruh zombie untuk mengedip? Kau sengaja ingin membuat matanya tergulung ke arah kepalanya?” Ma Wang kemudian memarahi Oh Gong.
“Sesosok mayat yang semestinya terbaring dengan mata tertutup tapi sebaliknya justru berkedip merupakan kemewahan hidup.”
“Ya, aku menjalani kemewahan hidup.” Bu Ja menjadi sedih dan kesal pada Oh Gong, lalu dia meninggalkan meja makan.
“Zombie, lihat sini. Aku akan memukul bagian belakang kepalamu, jadi kita bisa memasukkan bola matamu kembali setelah meloncat keluar. Kemarilah.”
“Aku terlihat mengerikan saat bola mataku meloncat keluar. Aku kelihatan seperti Zombie!”
“Hei, Zombie ya seharusnya kelihatan seperti Zombie. Hei, kemari! Hei, hei! Kemari! Aku hanya akan memukulmu sekali. Kemari, Zombie!”
Oh Gong juga pergi dari meja makan untuk menyusul Bu Ja.


Setelah Oh Gong pergi, Ma Wang kembali berbicara sambil mengedipkan matanya.
“Pekerjaan menjijikkan seekor Kera. Segera, dengan kedua matamu, aku akan membuatmu menangis darah akibat kecemburuan. Segera.”


Seon Mi datang ke tempat Peri Ha. Dia menceritakan saat Geumganggo membeku dan apa yang diucapkan Oh Gong padanya.
“Kedengaran seolah kata-katanya yang biasa, tapi saat bersamaan terasa tidak juga.”
“Seperti apa tepatnya?”


Seon Mi lalu menirukan gaya Oh Gong saat mengucapkan “karena aku mencintaimu” seperti yang biasa Oh Gong lalukan, tapi saat Geumganggo membeku Oh Gong tidak melakukannya.
“Biasanya dia bilang, "Karena aku mencintaimu". Seperti ini.” Seon Mi menirukan gerakan tangan Oh Gong.
“Tapi pada saat itu, "Karena aku mencintaimu". Begini.” Seon Mi berbicara sambil menunjukkan ekspresi bersungguh-sungguh tanpa mengulurkan tangannya.
Menurut Peri Ha, keduanya sama saja, tapi Seon Mi tidak setuju. Ada perbedaan saat Oh Gong mengatakannya pada waktu Geumganggo membeku dan tidak.
“Tidak ada yang perlu dibingungkan. Oppa-ku tidak bisa membekukan Geumganggo. Aku lebih kuat. Apa hebatnya jika Panglima Es membekukannya bila Peri Musim Panas bisa mencairkan semuanya.”
“Kalau begitu, kalian berdua mempermainkanku? Panglima Es dan Peri Musim Panas. Aku dipermainkan oleh siluman bersaudara?”
“Sebab itulah kau seharusnya bermain dengan manusia, bukan siluman.”
“Tidak ada manusia yang cocok denganku. Jika ada seseorang seperti itu, aku juga akan menyukai manusia.”
“Tetap saja, bisakah itu jadi alasan menyukai siluman?”
“Siapa yang menyukai siluman?”
“Jin Seon Mi-ssi, jangan bingung... dan temukan seseorang (manusia) yang dapat kau cintai. Jika kau terus membiarkan hatimu dicuri oleh siluman, itu akan menjadi berbahaya.”


Seon Mi sudah berada di rumah, dan dia teringat ucapan Peri Ha.
“Benar. Membiarkan hatiku dicuri itu berbahaya.”
“Apa yang berbahaya?” Oh Gong sudah muncul dan duduk di sofa.
“Kaget aku!”
“Kalau berbahaya, kenapa kau tidak memanggilku?”
“Kenapa kau di sini padahal aku tidak memanggilmu?”
“Aku merindukanmu, tentu saja. Dan, ada yang ingin kuberikan kepadamu.”


Oh Gong mengeluarkan sebuah termos kecil.
“Kau kena salju. Makanlah bubur hangat sebelum tidur agar tidak kena flu. Sa Oh Jeong yang membuatnya.”
“Kau bilang, seseorang yang memproduksi ponsel membuatkan bubur untukku?”
“Oh Jeong kami suka memasak. Jika kau menikmati masakannya, dia akan tersenyum cerah.”
“Katakan pada adikmu aku akan menikmati makanannya.”
“Katakan sendiri. Jika kau membuka tutupnya dan bicara, Sa Oh Jeong bisa mendengarmu.”


Seon Mi lalu berbicara melaui tutup termos, seperti yang diperintahkan Oh Gong
“Aku akan menikmatinya. Terima kasih, Sa Oh Jeong-nim. Dia tidak menjawab.”
“Apa dia sedang mengobrol di ponsel? Tinggalkan pesan. Atau kau ingin melakukan video call?”


Oh Gong lalu memegang tutup termos dan mengarahkannya ke wajah Seon Mi. Seon Mi yang merasa dibodohi lalu mengambil tutup itu.
“Kau sedang mempermainkanku kan sekarang?”
“Tentu saja. Dasar bodoh. Kau percaya... kalau tutup termos ini ponsel?”
“Kau senang mempermainkan manusia?”
Oh Gong lalu meniup tutup termos itu “Ya. Sekarang pasti bisa. Cobalah.”


Seon Mi lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Tak usah. Aku pakai ponsel saja. Aku manusia, jadi harus memakai ini. Setelah berhubungan denganmu, aku terus saja kebingungan dan melakukan hal-hal tidak masuk akal.”
“Kau marah karena sebelumnya aku berusaha membunuhmu kan?”
“Kenapa aku harus marah? Aku yang bodoh. Predator terkuat yang dapat memangsaku adalah kau. Karena kau terlalu bersahabat sebagai predator, aku salah berpikir bahwa aku sudah aman”
“Begitu? Aku justru semakin yakin. Aku tidak bisa membiarkanmu menghilang. Sebab, sebelum itu terjadi, hatiku akan hancur berkeping-keping. Jadi, kau tidak akan mati, kecuali aku juga mati.”
“Karena Geumganggo?”
“Ya. Kau tidak perlu khawatir lagi. Sam Jang, kau aman. Ini kebenarannya, jadi percayalah.”
“Bagaimana bisa aku memercayaimu padahal kau selalu menipuku?”
“Makanlah sesuatu yang hangat, tidur dengan nyenyak, dan jika ada yang ingin kau katakan, tinggalkan pesan.”
“Kau coba mengerjaiku lagi? Aku tidak percaya.”
Oh Gong kemudian menghilang.


Setelah Oh Gong pergi, Seon Mi mencoba kembali berbicara dengan termos itu.
“Apa yang sedang kulakukan, sih? Semua itu palsu. Aku tidak akan tertipu. Aku juga yakin sekarang. Aku tidak akan memercayai apa pun. Tidak akan pernah, tak akan percaya!”
“Kau bohong, padahal kau sangat memercayainya. Jin Seon Mi, saat masih kecil ataupun sekarang, kau gampang sekali dibodohi.”
“Kututup!” Seon Mi mendengar suara Oh Gong dari dalam termos itu dan menjadi kesal.
“Jangan sampai tertipu. Kalau aku sampai tersihir oleh seorang siluman, berbahaya.”


Seorang siswa sedang berada di perpustakaan hingga larut malam, dan hanya dia sendiri yang ada di perpustakaan. Saat sedang membaca buku, dia juga berkirim pesan dengan temannya yang mengatakan ada rumor tentang hantu di perpustakaan.
“Menakutkan, sebab itu tidak seorangpun ke sana. Kau juga sebaiknya lekas pulang ke rumah.”
Siswa itu tidak percaya pada temannya, dan masih tetap berada di perpustakaan. Tiba-tiba seorang perempuan cantik muncul, dia sedang duduk sambil tersenyum.


Siswa itu masih mengirim pesan pada temannya.
“Tidak ada hantu di sini. Tapi justru seorang gadis yang sangat cantik!”
Setelah selesai mengirim pesan, gadis itu sudah ada di hadapannya.
“Gerakanmu sangat cepat.”
Kemudian dia membaca pesan dari temannya “Mereka bilang hantu perpustakaan sangat cantik... Dan juga, dia tidak punya kaki.”


Siswa itu tidak sengaja menjatuhkan ponselnya,  saat mengambil ponselnya dia melihat gadis itu tidak mempunyai kaki.
“Apa yang kau lakukan?” gadis itu bertanya , kemudian siswa itu berteriak.


Sa Oh Jeong sedang berada di pasar ikan, seekor gurita berbicara padanya.
“Lihatlah ke sini. Monster air, lewat sini.”
“Kau kah yang memanggilku?”
“Aku putra kedua dari Raja Naga Laut Timur, Naga Giok.”
“Bagaimana bisa Anda berakhir di sini?”
“Pertama-tama, keluarkan dulu aku dari sini.”
“Saya akan mengeluarkan Anda, Pangeran.”


Sa Oh Jeong membawa gurita itu ke rumah Ma Wang.
“Gurita di dalam sini adalah putra kedua dari Raja Naga Laut Timur?”
“Ya, dia dihukum dan tertangkap jaring nelayan saat kehilangan kekuatannya. Aku bergegas menempatkannya di sini dan membawa kemari... dari pasar ikan di mana dia mungkin terjual untuk dibuat sushi. Sekarang ini, dia tidur. Mereka bilang Naga Giok ditendang keluar setelah menjual obat pada duyung yang mengubah mereka menjadi manusia. Ma Wang dan Raja Naga Laut Timur adalah teman dekat, jadi kenapa tidak mengajaknya tinggal di sini? Aku permisi karena ada rapat penting yang harus kuhadiri.” Sa Oh Jeong kemudian pergi meninggalkan gurita itu bersama Ma Wang dan Soo Bo Ri.


“Tinggal bersama seekor Kera dan sesosok Zombie sudah cukup berat untukku. Menambahkan gurita ini terlalu berlebihan. Kenapa tidak kau saja yang mengurusnya? Kalau begitu, aku permisi karena ada janji main golf.” Ma Wang kemudian bergegas pergi tapi Soo Bo Ri mengikutinya.
“Sebentar! Kau yang harus mengurusnya! Siapa yang akan mengurus ini? Ma Wang! Tunggu! Ma Wang!”
Saat tidak ada orang di ruangan itu, kotak putih yang berisi gurita itu bergerak-gerak.


Alice bersikeras ingin bertemu dengan Ma Wang tapi Sekertaris Ma mencegahnya.
“Kenapa aku tidak bisa ikut audisi untuk film yang akan datang?”
“Alice, aktingmu itu sangat mengerikan.”
“Aku akan bicara langsung pada Ketua Woo Hwi.”
“Tidak bisa.”
“Kalau begitu, haruskah aku menerobos masuk ke rumah Ketua Woo?”
“Tunggu sebentar. Aku akan bicara pada Ketua.”


Saat Sekertaris Ma masuk ke ruangan Ma Wang, dia melihat ada genangan air dan gurita itu sudah tidak berada di dalam kotak.


Alice sedang berada di toilet.
“Aku kesal sekali. Beraninya dia menyebut aktingku mengerikan, ish?”
Kemudian dia melihat ada tentakel geurita bergerak ke arahnya. Gurita itu masuk ke dalam bilik toilet, dari dalam nilik toilet itu mengeluarkan cahaya dan suara Alice yang berteriak. Saat Alice sudah berhenti berteriak pintu toilet terbuka, gurita itu sudah menjelma menjadi Alice.


Sekertaris Ma berpapasan dengan Alice dan menyadari itu bukan Alice.
“Kau bukan Alice Yang.”
“Aku ketahuan?”
Advertisement


EmoticonEmoticon