1/18/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 6 Part 2
Oh Gong datang ke tempat Seon Mi sedang menunggunya. Dia memprotes kenapa mereka bertemu di tempat yang dingin seperti itu.
“Di taman ini, ada beberapa orang yang rambutnya dipangkas. Tapi aku tidak bisa tahu itu kerjaan Iblis jahat atau bukan, jadi aku memanggilmu. Maaf karena memanggilmu ke tempat yang dingin.”
“Bukan aku, tapi kau. Kau kedinginan. Pipimu memerah.”
Seon Mi membertitahu malam ini akan ada badai, Oh Gong jadi teringat ucapan Jenderal Es yang mengatakan malam ini adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkan Sam Jang.


Oh Gong jadi bersikap baik pada Seon  Mi, dia memuji pakaian yang dipakai Seon Mi hari itu. Padahal dia sudah sering memakainya.
“Kau mau membeli pakaian? Kau kan suka hijau. Kurasa aku harus membelikanmu mantel hijau saat pulang nanti. Bagaimana kalau makan sesuatu? Mau ke restoran keluarga? Seperti keluarga.”
“Apakah terjadi sesuatu? Kau sangat berbeda dari perkataanmu kemarin?”
“Apa yang kukatakan?”
“Kau ingin aku menghilang.”
“Aku hanya ingin memperlakukanmu dengan baik, itu saja.”
“Kau tidak protes karena harus bersikap baik akibat Geumganggo. Kau pasti bersungguh-sungguh.”
“Apa maksudmu? Aku secara konsisten baik padamu.”
“Ini pertama kalinya kau sungguh-sungguh mengatakan ingin baik kepadaku. Ah, tidak, pernah sekali dulu kau benar-benar baik. Saat kau mencoba meyakinkanku untuk menyerah atas kehidupan ini, kau sangat baik kepadaku. Kau sangat baik kepadaku dan mengatakan berharap aku tidak memiliki penyesalan apa pun saat mati.”


Tiba-tiba Oh Gong menarik tangan Seon Mi.
“Oh, di sana ada banyak orang mengantre. Pasti sesuatu yang lezat. Ayo ke sana. Ayo, cepat ke sana.”


“Apa? Ini permen kapas. Tapi kenapa mereka mengantre untuk ini?”
“Kau tidak tahu permen kapas? Kau kan suka es krim. Ini juga rasanya manis.”
“Manis? Kau mau? Aku mengerti.” Lalu Oh Gong langsung menerobos antrian, Seon Mi pun menegurnya.
“Apa yang kau lakukan? Kau harus mengantre.”
“Kau mau mengantre? Baiklah.” Oh Gong pun keluar dari antrian dan berdiri paling belakang.


Oh Gong memesan permen kapas yang sangat besar.


Seon Mi mengatakan ini pertama kalinya dia melihat permen kapas yang sebesar ini.
“Kalau lebih besar lagi, aku mungkin bisa menyelimuti diriku dengan ini saat tidur.”
“Kau ingin menyelimuti dirimu dengan ini? Baiklah.”
“Tidak usah. Ini sudah cukup.”
“Aku bisa membuatkanmu yang sebesar awan.”
“Aku takut kau sungguh akan melakukan yang kau katakan.”
Seon Mi lalu memberikan sedikit permen kapas kepada Oh Gong, dan dia sangat menyukainya.


Oh Gong lalu merebut permen kapas yang dipegang oleh Seon Mi lalu memberi hanya sepotong kecil untuk Seon Mi.
“Kau hidup selama itu tapi belum pernah mencoba permen kapas? Jika kau tidak memakai Geumganggo, kau tidak akan pernah tahu yang namanya permen kapas.”
“Ya, ya, berkatmu, aku menemukannya. Aku suka permen kapas ini. Suka sekali.”
“Ini pertama kalinya kau mengatakan suka sesuatu karena aku. Saat memakai Geumganggo, kau sebelumnya selalu mengatakan menyakitkan menatapku. Kau bilang aku Gunung Lima Elemen yang menghancurkanmu. Sebab itu, kau bilang ingin aku menghilang.”
“Benar. Aku pikir lebih baik jika kau menghilang.”


Mendengar ucapan Oh Gong, Seon Mi menjadi sedih lagi.
“Saat Geumganggo menghilang dan perasaanmu kepadaku lenyap, apakah permen kapas ini akan menghilang juga? Ingatan kau mengatakan menyukainya sangatlah manis... Semuanya akan langsung terhapus kan?”
“Apa kau bodoh? Ini akan tetap ada. Sekalipun bukan karena Geumganggo, manis tetaplah manis, dan yang kau sukai tetap kau sukai.”
Seon Mi tersenyum lalu mencari alasan untuk pergi “Oh. Tanganku lengket. Aku harus membasuhnya dulu.”


Oh Gong melihat Seon Mi yang berjalan meniggalkanya.
“Kenapa dari semua waktu aku harus merasa bahagia saat ini? Ah, benar-benar. Permen kapas ini sangat manis!”


Seon Mi memegang sebuah gembok lalu mengingat kata-kata Oh Gong.
“Apa kau bodoh? Sekalipun bukan karena Geumganggo, manis tetaplah manis, yang kau sukai tetaplah kau sukai.”
Kemudian dia memasang gembok itu.


Seorang pria datang dan menunjukkan hasil fotonya.
“Maafkan aku. Aku memotretmu saat meletakkan gemboknya. Tapi tidak menunjukkan wajahmu. Jika kau keberatan, aku akan menghapusnya.”
“Apa kau orang asing?”
“Aku datang dari Amerika. Tapi fasih berbicara Korea.”
“Karena wajahku tidak kelihatan, tak masalah.”


Oh Jeong menyiapkan makanan dengan wajah sedih. Dan mereka semua tidak mengetahui alasannya. Oh Gong bertanya kenapa Pal Gye tidak pulang ke rumahnya.
“Aku di sini untuk membantu Bu Ja. Oh, Bu Ja berlatih untuk mengikuti program audisi di televisi.”


Oh Gong dengan ketus menanggapi rencana Bu Ja.
“Audisi? Wah, sudah cukup luar biasa melihat zombie menonton TV, tapi sekarang kau akan muncul di sana?”
“Jika aku muncul di acara itu, keluarga dan teman-temanku mungkin akan mengenaliku dan coba menelepon.”
“Benar. Musuh yang membunuhmu mungkin mengenali dan mencarimu.”
“Dibandingkan musuhku, aku ingin bertemu keluargaku.”
“Dengar baik-baik. Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu keluargamu padahal kau sudah jadi mayat? Cukup temukan saja musuhmu dan balas dendam, lalu pergi untuk disemayamkan. Itu jalan terbaik untuk mengatasinya.” Setelah berbica Oh Gong pun pergi.


Bu Ja merasa sangat sedih mendengar ucapan Oh Gong, lalu Pal Gye menghiburnya
“Tapi sekali lagi, aku memang sudah mati.”
“Jangan khawatir. Sekalipun kau menemukan keluargamu, kau tidak harus dikuburkan. Aku akan mendapatkan ribuan batu energi untukmu. Aku akan bintang top. Dan juga, aku rasa aku akan menjadi lebih kuat. Saat itu, aku akan menendang bokong Kera jahat itu.”
“Jeo Pal Gye-nim, terima kasih.”
“Jangan menangis, ya? Kau mau kunyalakan AC-nya? Sa Oh Jeong, di mana remote AC-nya?”


Karena Oh Jeong tidak menjawab Pal Gye, lalu Pal Gye mendatanginya ke dapur. Oh Jeong masih tampak sedih.
“Sa Oh Jeong? Apa? Kau di sini. Kenapa tidak menjawab saat kupanggil? Sedang apa kau? Ada apa? Oh, nilai saham perusahaanmu anjlok?”
“Nodanya tidak mau hilang.”
“Ah, buang sajalah!”


Tangan Ma Wang sudah tidak bergetar, tapi muncul ruam besar di wajahnya. Dia meminta Sekertaris Ma untuk membatalkan jadwalnya sampai efek sampingnya hilang. 
“Saya akan mengurusnya.”
“Obat yang bisa menetralisir darah Sam Jang sudah berhasil kau temukan atau belum?”
“Saya sudah meminta cucu pemilik toko menemukan sesuatu untuk saya.”
“Cepat temukan. Ini benar-benar memalukan.”


Sekertaris Ma lalu keluar dari ruangan Ma Wang. Dia sudah memegang obat penetralisir dari cucu pemilik toko, tapi Sekertaris Ma enggan memberikan pada Ma Wang karena obat itu mematikan.
“Aku tidak bisa membiarkan dia mengonsumsi sesuatu yang berbahaya.”


Pal Gye bertanya pada Soo Bo ri.
“Jika seorang monster memakan Sam jang, seberapa kuat dia jadinya? Sebagai contoh, jika aku menggigit sedikit saja daging Sam Jang sekarang, apakah mungkin bagiku menang melawan Dewa Agung?”
“Kenapa kau tanya soal itu kepadaku? Katamu kau akan mengencani Sam Jang. Kau kehilangan semangat untuk melakukannya?”
“Aey, kapan aku bilang aku akan mengencani dia? Aku bahkan tidak punya hasrat melakukannya! Tidak peduli apa pun yang terjadi pada Sam Jang, tak apa asal aku dapat satu gigitan.”
“Jangan membuat masalah dengan Sam Jang. Jika sesuatu terjadi kepada Sam Jang saat ini, itu akan menyebabkan masalah untuk kita semua. Pertama, aku tidak akan mendapat promosi jabatan, dan Ma Wang tidak akan bisa menjadi Dewa. Lalu Dewa Agung tidak akan pernah bisa kembali ke Kahyangan. Kemudian, Bu Ja juga akan menghilang.”
“Apa hubungannya Sam Jang dengan Bu Ja?”
“Bu Ja itu mayat yang bangkit dari kematian oleh kekuatan darah Sam Jang. Mayat hidup. Jika Sam Jang pergi, maka hanya soal waktu Bu Ja akan menghilang juga.”
“Kita bisa tetap memberinya makan dengan batu energi.”
“Pernahkah kau melihat mayat hidup bertahan dengan itu saja? Dia akan membusuk. Jadi kalau Sam Jang mati, Bu Ja juga akan mati.”


Ruam di wajah Ma Wang sudah menghilang, tapi muncul ruam besar di dadanya.
“Ya, bagaimanapun, tidak kelihatan karena aku memakai baju, jadi syukurlah.”
“Saya akan berusaha keras untuk memastikan Anda tidak akan pernah mengalami efek samping seperti itu lagi.”
Sekertaris Ma tampak sangat bersungguh-sungguh lalu dia keluar dari ruangan Ma Wang.


Sekertaris Ma sedang berbicara dengan Seon Mi di telepon.
“Seberapa dekat posisimu?”
“Aku hampir sampai di sana. Apakah aku langsung ke ruangan Ketua?”
“Tidak perlu. Aku akan menemuimu di area parkir bawah tanah.”


Pal Gye mendengar percakapan Sekertaris Ma dengan Seon Mi.
“Kau memanggil Sam Jang ke sini.”
“Benar.”
“Untuk tujuan apa?”
“Aku akan menikam Sam Jang. Jika aroma darah Sam Jang menyebar, Ma Wang tidak akan dapat menahannya lagi.” Sekertaris Ma menunjukkan gagang pisau dari sakunya.
“Dewa Agung akan menghalanginya.”
“Aku sudah memblokirnya.”
“Kau pasti tahu pasti bahwa kau bukan tandingan Dewa Agung.”
“Sekalipun aku mati di tangannya, cukup untuk mengulur waktu. Entah 5 atau 10 detik saja, waktunya sudah cukup untuk Ma Wang.”


Pal Gye masuk ke ruangan Ma Wang seperti akan mengatakan sesuatu.


Sekertaris Ma datang ke tempat parkir dengan menyembunyikan pisau di belakang badannya.
Dia berjalan ke arah Seon Mi.
“Sekretaris Ma, ada perlu apa?”
“Sam Jang, aku sungguh minta maaf.”


Saat Sekertaris Ma sudah berada di depan Seon Mi, dia menusukkan pisau di dadanya.


Tapi pisau itu menusuk ke dada Ma Wang.


Oh Gong bertanya pada Ma Wang apa dia kesakitan.
“Benar. Sakit.”
“Hei, Sekretaris Anjing. Kalau kau melakukan hal ini lagi, kubunuh kau.”
“Dia tidak akan mati di tanganmu. Pada akhirnya, dia harus mati di tanganku.”
“Maafkan saya.” Sekertaris Ma tampak sangat terpukul.


Seon Mi akhirnya berbicara, dia berusaha melihat apa yang terjadi.
Seon Mi: “Maaf, Para Monster. Aku satu-satunya manusia di sini, jadi aku mungkin salah memahami situasinya, tapi tadi Sekretaris Ma berniat menikamku?”
Sekertaris Ma: “Ya.”
Seon Mi: “Kenapa?”
Sekertaris Ma: “Karena Ma Wang menginginkanmu.”
Seon Mi: “Ma Wang-nim? Kenapa?”
Ma Wang: “Karena aku meminum darahmu.”
Seon Mi: “Bagaimana bisa?”
Oh Gong: “Aku memberikannya.”
Seon Mi: “Kenapa kau melakukannya? Karena kau ingin menyingkirkanku?”


Mata Seon Mi berkaca-kaca lalu dia segera pergi meninggalkan mereka.


Sekertaris Ma tampak merasa sedih dan sangat bersalah.
“Ma Wang, Anda kesakitan?”
“Masih bisa ditahan. Di sisi lain, berandal itu tampak lebih terluka dibanding aku. Padahal dia yang menciptakan semua kekacauan ini. Dia kena batunya.”
“Ma Wang-nim, saya sungguh minta maaf. Sebagaimana yang Anda katakan tadi, tolong bunuh saya sekarang.”
“Benar. Aku akan membunuhmu. Tapi tidak sekarang. Jika tiba saatnya aku harus membunuhmu, aku akan memilih tanggal dan melakukannya. Sampai saat itu terjadi, kau tidak diizinkan mati di tangan orang lain. Ini perintah. Jangan pernah mencoba untuk membunuh tanpa izinku lagi.”
“Baik.”
Advertisement


EmoticonEmoticon