1/17/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 5 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 5 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 5 Part 3
Ma Wang dan Cha Eun berada di sebuah restoran. Dia tidak mengenali Ma Wang dan memintanya untuk tidak ikut campur.
“Aku harus membunuhnya.” 


Ma Wang melihat Cha Eun membungkus lukanya menggun akan scraf yang dipakainya, lalu Ma Wang mengambil sapu tangan lalu membungkus luka di tangan Cha Eun. Cha Eun segera berdiri dan sebelum pergi dia berbicara pada Ma Wang.
“Lain kali, mampir lah ke tokoku.”
“Pada akhirnya, kau... akan membunuh orang Jepang itu kan? Dan... kau akan terbunuh saat di kejar.”
“Aku tahu. Aku juga ingin mati.”
Ma Wang sampai Cha Eun pergi dia tidak mengatakan apapun. Wajahnya menunjukkan kesedihan.


Seon Mi mencari Akiko hingga sampai ke ruangan dengan meja seperti yang ada di museum. Saat akan menyentuh meja itu, Akiko muncul dan berbicara dengan bahasa Jepang.

“Akiko?”
“Jangan sentuh itu. Aku tinggal di situ. Hartaku tersembunyi di sana. Kau tidak boleh menyentuhnya.”
“Jadi ini kau?”
“Kau tahu siapa aku?”
“Akiko.”
“Benar, Akiko.”
“Kau orang Korea, maksudku, orang Joseon. Kenapa berpura-pura menjadi orang Jepang? Siapa nama aslimu?”
“Aku bukan lagi orang Joseon. Ayahku bahkan mendapat penghargaan dari Kaisar.”
“Hei, bicara dalam bahasa Korea!”
“Bodoh! Aku membencimu!”


Hantu Akiko menghilang. Lalu telepon di meja itu berbunyi, Seon Mi mengangkatnya dan mendengar suara sekertaris Ma.
“Sam Jang?”
“Sekretaris Ma? Aku menemukan gadis itu.”
“Itu bukan jiwa gadis yang meninggal. Itu jiwa wanita tua yang masih hidup.”
“Dia masih hidup?”
“Kembali lah ke tempat pertama kau masuk. Ma Wang akan menunggu di sana.”


Seorang wanita tua bernama Kang Myeong Ja terbaring tidak sadrkan diri.


Saat Seon Mi keluar dari rumah itu, punggungnya ditembak atas perintah hantu Akiko. 


Seluruh bagian dalam film itu menghitam termasuk Seon Mi. Saat dia hampir tidak sadrkan diri, dan masih tersisa sedikit bagian wajhanya yang belum menghitam, dia menyebut nama Son Oh Gong. Walaupun dia tidak bisa bersuara, dia menyebutnya dalam hati.
“Aku harus keluar dari sini dan menonton film kesukaanku dengan... Dengan...”


Dari kejauhan Son Oh Gong datang. Seon Mi samar-samar mendengarnya memanggil nama Seon Mi, memintanya untuk sadar.
“Jin Seon Mi. Jin Seon Mi, bangun. Bangun, Jin Seon Mi!”
“Son Oh Gong...”
“Jin Seon Mi, buka matamu. Kubilang buka! Buka matamu! Jin Seon Mi! Buka matamu! Buka matamu!”


Saat Seon Mi bangun, dia sudah berada di dalam bioskop bersama Oh Gong. Seon Mi memakai baju berwarna hijau dan memegang es krim stroberi.
“Apa yang terjadi? Bukankah aku di tembak dengan pistol?”
“Sudah kubilang akan memberi semua yang kau suka. Es krim rasa strawberry, setelan hijau, film... dan aku.”


Sekertaris Ma sedang berbicara dengan Ma Wang.
“Teater yang memutar film itu telah di relokasi.”
“Syukurlah, selain teater, tidak ada kerusakan.”
“Syukurlah. Sam Jang di tembak dengan pistol, tapi bagaimana Dewa Agung menyelamatkannya?”
“Apa yang di bakar Dewa Agung bukan lah film yang aslinya. Dia masuk ke dalam dan membakar seluruh dunia.”


Son Oh Gong menggendong Seon Mi dan membakar semua yang ada di belakangnya.


“Dunia di mana dia di tembak dengan pistol dan mati, di bakar sampai habis... dan karena itu dia bisa membawanya keluar dengan aman dan selamat. Demi Sam Jang, Son Oh Gong menghancurkan seluruh dunia.”
“Di ketahui, film museum itu hilang setelah menjadi subjek pemutaran film. Anda tidak akan terkena dampaknya.”
“Bagus.”


Setelah Sekertaris Ma pergi, Ma Wang kembali membayangkan saat Cha Eun mengatakan “Lain kali, mampir lah ke tokoku.”
Lalu Ma Wang berbicara pada dirinya sendiri “Aku berpikir tidak akan bisa kembali dan menemukannya lagi.”


Ma Wang datang bersama Sekertaris Ma ke Upacara Anugerah Medali Presiden 2018. Mereka berdua melihat wanita yang bernama Kang Myeong Ja juga datang untuk menerima penghargaan.
“Sepertinya bukan cuma aku yang mendapatkan penghargaan Presiden.”
“Kang Myeong Ja, lahir tahun 1930. Dia keturunan aktivis kemerdekaan dan Mantan Presiden Yayasan Budaya. Dia hari ini menerima Medali Tokoh Budaya.”
“Apa yang dia lakukan sampai mendapatkan Medali?”
“Ada orang yang menyembunyikan rahasia buruk tepat di depanmu.”
Kalimat Sekertaris Ma ditujukan pada seorang pria yang mendorong kursi roda.


Kang Myeong Ja berada di kamarnya, dia akan menyimpan medali yang baru saja diterimanya.
“Medali Tokoh Budaya Korea. Rumah tangga kita masih sejahtera seperti dulu.”
Dia berbicara pada medali itu.


Kemudian dia menuju ke meja rias dan mengambil medali lain dari dalam laci.


Dari kaca, dia melihat hantu Akiko datang lalu berbicara padanya.
“Dulu, aku anggota keluarga yang mendapat medali kehormatan dari Kaisar Jepang dengan nama Akiko. Sekarang, aku orang yang menerima Medali Tokoh Budaya Korea dengan nama Kang Myeong Ja. Sekarang, tidak ada yang tahu bahwa aku Akiko.” Lalu dia tertawa pada hantu Akiko.
“Kau tahu, bukan? Semua orang yang mengenal Akiko, perlu di singkirkan!”


Hantu Akiko datang mendekati nwajah Kang Myeong Ja. Dan membuatnya berteriak.


Seorang wanita masuk dan menemukan Kang Myeong Ja sudah tidak sadrkan diri.


Lee Han Joo sepertinya baru saja menerima sebuah penghargaan.
“Ketika tinggal di sini, aku tidak pernah menyangka akan menerima penghargaan seperti ini. Aku harus mentraktir Anda. Uangku cuma sedikit... jadi aku tidak bisa traktir daging sapi atau daging babi. Bagaimana?”
“Aku akan menonton film hari ini. Bisa kau traktir besok saja?”
“Tidak bisa? CEO, ini pertama kalinya aku melihat Anda seperti ini. Sepertinya Anda telah berubah.” Lee Han Joo menirukan gerakan tangan Seon Mi.
“Benarkah?”
“Aku akan traktir besok. Besok. Untuk hari ini, pergi lah menonton film dengan pacar Anda.”
“Pacar? Aku tidak punya pacar.”
“Orang yang menjaga Anda. Anda tahu dia menyukaimu.”


“Dia bukan pacarku. Tapi memang benar dia menyukaiku.”
“Bukankah Anda juga menyukainya?”
“Aku?”
“Sepertinya Anda sangat menyukainya. Itu jelas kelihatan saat Anda menunggunya datang setiap hari.”
“Benarkah?”
“Orang itu juga pasti tahu.”
“Itu tidak boleh.”


Seon Mi mengingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Oh Gong.
“Sepertinya ada kejadian mengerikan yang telah terjadi. Aku mencintaimu. Mulai sekarang, kau punya aku yang mencintaimu. Kapan pun kau membutuhkanku, panggil lah. Aku akan menunggu. Cinta ini akan berakhir dan hilang, aku hanya ingin menumpuknya seperti orang gila.”
“Berakhir dan hilang?”
“Tentu saja. Perasaanku adalah palsu.”


Seon Mi memanggi Oh Gong dan dia pun muncul.


“Kita seharusnya menonton film jadi mengapa kau memanggilku ke sini?”
“Aku tidak mau menonton film denganmu.”
“Apa lagi? Masalah apa kali ini?”
“Karena aku menyukainya. Aku suka saat bersamamu dan kau melakukan semuanya untukku. Jadi aku merasa seperti kau akhirnya akan membuatku mencintaimu juga. Tapi kau palsu. Aku terlalu bodoh sampai menyiksa diri.  Kau bilang akan melakukan semua yang ku inginkan, bukan? Lalu, kau tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak ku suka. Aku sungguh tidak ingin menyukaimu. Jangan memintaku untuk menyukaimu.” Seon Mi berbicara dengan mata berkaca-kaca.
“Jika itu yang kau mau, maka aku akan melakukannya.”


Ma Wang pulang ke rumah dan melihat tidak ada mantel yang digantung di tanduk patung kerbaunya. Tapi dia melihat Oh Gong yang membawakan minuman untuknya.
“Dewa Agung, ada apa ini?”
“Kau sudah pulang, Ma Wang? Selamat atas penghargaanmu. Kita harus mengadakan pesta.”
“Sekali lagi, satu-satunya yang ingat aku adalah Dewa Agung.”
“Anak-anak lain juga ingat.”


“Bagaimanapun, aku merasa tidak enak minum sendiri.”
“Aku membawa anggur terbaik dari semua koleksiku di Sureumdong untuk berbagi denganmu.”
“Kau pergi sejauh itu untuk memberi selamat kepadaku?”
“Bukan hanya memberi selamat. Ada hal lain yang ingin kubagikan.”
“Apa?”
“Aku sungguh tersiksa karena Geumganggo. Tapi, kau tahu? Sam Jang bilang dia juga tersiksa.”
“Love.”
“Karena Geumganggo, baik Sam Jang mau pun aku merasa tersiksa. Jika begini, bukankah kau juga harus tersiksa, Ma Wang?”
“Apa?”
“Ma Wang, berbagi lah rasa sakit dengan kami.”
“Apa yang kau lakukan? Disini?”
“Aku menaruh sesuatu di anggur itu.”
“Apa itu?”
“Darah Sam Jang.”
“Jangan bercanda denganku. Mana mungkin aku tidak mengenali baunya.”
“Itu sebabnya aku mengisi rumah ini dengan bau bunga teratai selama ini.”


Ma Wang mulai merasakan reaksi dari minumannya. Dia juga ingat apa yang dikatakan Bu Ja waktu itu.
“Son Oh Gong menyuruhku menyalakan lilin setiap hari untuk Ma Wang.”


“Sial. Darah Sam Jang berbau bunga teratai.”
“Jika kau tidak memperhatikannya, aku mengambil dan menggunakan darah yang kau simpan.”
Ma Wang melihat kristal di cincinnya seharusnya berisi darah Sam Jang, tapi kristal itu sekarang sudah kosong. Mata Ma Wang berwarna merah dan tubuhnya menggeliat.


“Sam Jang seharusnya berada di sini. Sepertinya kau bisa mencari tahu apa efeknya. Rasa sakit karena menginginkan sesuatu yang tidak di miliki, kau akan merasakannya, Ma Wang. Sepertinya dia ada di sini.” Oh Gong memberi tahu Ma Wang saat Seon Mi masuk.
Advertisement


EmoticonEmoticon