1/10/2018

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 4 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 4 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 4 Part 3
Sekertaris Ma menunjukkan foto timbangan yang dihancurkan Oh Gong di ponselnya.
“Ma Wang, ini foto yang di bagikan Sam Jang ke grup obrolan.”
“Dia menyelesaikannya dengan baik.” Ma Wang mengomentari foto itu.


Sao Bo Ri lalu berbicara dengan Ma Wang.
“Sam Jang cukup bagus. Kau akan mendapat poin dalam waktu singkat.”
“Perasaan negatif manusia terus mendatangkan roh jahat.”
“Aku khawatir perasaan itu akan membuat neraka yang sesungguhnya di Bumi.”
“Itu sebabnya Sam Jang turun ke sini? Karena mereka takut dunia akan sungguh membuka gerbang Neraka. Apa Sam Jang korban untuk... menghentikan gerbang Neraka agar tidak di buka?”


Guci di toko umum itu mengeluarkan bunyi dan bergerak-gerak. Pemilik toko mengatakan kalau guci itu akan segera meluap. Kemudian guci itupun retak dan mengeluarkan cahaya dari retakannya.


Oh Gong sedang menutup luka Seon Mi dengan plester.
“Hei, sudah kubilang darah ini berbahaya. Jika aku tidak di pihakmu, kau pasti sudah mati. Kau tahu itu? Sini.”
“Kenapa kau memasangkan obat? Obati dengan sihir! Seperti sebelumnya, dengan sihir dan langsung sembuh.”
“Apa menurutmu mudah melakukan itu? Yang aku lakukan sebelumnya sangat melelahkan.”
“Kau bilang dirimu Dewa Agung, setara dengan surga, tapi sebenarnya tidak. Karena kau orang yang luar biasa, aku tidak bisa hanya memanggilmu saja.”
“Kau tidak bisa hanya memanggilku? Itu artinya kau ingin memanggilku kan? Kau merindukanku? Jika kau merindukanku seperti itu, mengapa menahan diri?”
“Aku tidak bilang merindukanmu, aku hanya merasa terbebani. Kau adalah Dewa Agung, dan aku hanya manusia. Dan maaf karena menggunakan Geumganggo untuk mengikatmu. "Jika kau minta maaf, lepaskan ini!" Kau ingin mengatakan itu, bukan?” Seon Mi menirukan Oh Gong yang biasanya minta Geumganggo itu dilepaskan.


Oh Gong lalu mengggenggam tangan Seon Mi.
“Walau pun kau tidak melepaskannya, pasti akan terlepas. Suatu saat nanti. Sampai saat itu, aku hanya akan mencintaimu. Cinta ini pasti akan berakhir dan hilang tanpa jejak. Aku hanya ingin memupukkannya kepadamu seperti orang gila.”
“Berakhir dan menghilang?” Seon Mi mengucapkannya dengan wajah sedih dan matanya berkaca-kaca.
“Tentu saja. Perasaanku juga palsu. Ini akan berakhir dan kau akan sendiri lagi. Sampai saat itu, aku akan berada di sisimu. Aku mencintaimu, Jin Seon Mi.”


Ma Wang sedang makan bersama Bu Ja, Oh Gong, dan Sa Oh Jeong. Dia mencium bau busuk lalu bertanya pada Bu Ja.
“Bu Ja, kau tidur di lemari es tadi malam? Kau sedikit bau lagi.”
“Aku perlu menahan suhu tubuh tapi Son Oh Gong menyalakan ketel uapnya jadi aku tidur di sana.”
“Hei, wanita ini membusuk. Matikan ketel uapnya.”
“Aku lahir dari gunung berapi. Kau tahu betapa dinginnya aku?”
“Jika kau punya masalah seperti itu,  pergi ke kamar dan hidupkan ketel uapnya di sana!”
“Kenapa harus aku? Hei, Bu Ja. Lupakan mode dingin itu... masuk ke lemari es di sana dan membeku dengan baik. Saat musim semi dan cuaca hangat, aku akan membawamu keluar untuk mencair. Puas?”


Bu Ja tampak sangat sedih, jadi Ma wang memarahi Oh Gong, dan Oh Jeong menghibur Bu Ja.
“Dia sedih. Berengsek dingin ini...”
“Bu Ja, kau akan meleleh jika menangis. Jangan menangis, hm?”
Bu Ja hanya menganggu. Sedangkan Ma Wang dan Oh Jeong menatapa Oh Gong.
“Apa yang ku lakukan? Apa? Ini rumahku. Jika kau mengeluh, silahkan keluar! Astaga!”


Lalu semua orang sedang sibuk karena ada pesan di grup obrolan termasuk Ma Wang, Oh Gong pun menunjukkan ketidaksukaannya.
“Astaga, masih pagi sudah KakaoTalk. Apa ini? Kau juga di undang ke grup obrolan?”
“Ya. Kau tidak di undang? Haruskah aku mengundangmu?”
“Tidak, maksudku, aku hanya...”
Sebenarnya Oh Gong Juga ingin diundang, tapi Oh Jeong memperjelas situasinya. Dan membuat Oh Gong semakin kesal.
“Ma Wang, Hyungnim benci grup obrolan. Dia bilang itu berisik dan tidak ada yang mengundangnya.”
“Oh, begitu? Tidak jadi di undang?”
“Tidak, maksudku. Aku tidak suka. Itu ribut jadi tentu saja aku membencinya. Tapi jika kau sungguh ingin mengundangku...”
“Baiklah. Aku tidak akan mengundangmu.”
“Hyungnim ingin salad?”
“Tidak usah! Aku tidak akan memakannya!”


Mereka semua tertawa karena membaca grup obrolan.
“Kami tidak akan berisik jadi jangan pedulikan kami.” Ma Wang meledek Oh Gong.
“Kalian semua bersenang-senang, bukan?” dia kesal lalu melanjutkan makan.


Seon Mi sedang berbelanja di pasar untuk pesta tahun baru di tempat peri Ha. Tapi cucu pemilik toko umum memanggilnya.
“Kau anak dari Toko Umum itu kan?”
“Nenek ingin bertemu denganmu. Ayo.”
“Aku? Bagaimana kau tahu aku di sini?”
“Ikut saja.”


Seon Mi mengikuti anak laki-laki itu dan sudah tiba di depan toko umum.
“Tunggu. Pasar ini di depan rumahku. Tokomu sangat jauh dari sini. Pirun-dong? Bagaimana kita bisa langsung sampai di sini?”
“Kenapa tingkahmu seperti manusia naif? Kau pasti tahu jawabannya.”


Seon Mi mengikuti anak itu masuk ke toko, Seon Mi menunggu di dekat guci dan melihat guci itu retak lalu mengeluarkan air.
“Oh? Ini guci waktu itu. Apa itu pecah? Mereka bilang semua yang terlihat di sini adalah malapetaka.”


Seon Mi tiba-tiba berada di atas sebuah gedung dan melihat banyak pesawat melintas untuk menjatuhkan bom. Bangunan dan seisi kota di hadapannya pun hancur terbakar.


Seon Mi kembali ke toko umum, dia terjatuh ke lantai sambil terengah-engah. Soo Bo Ri muncul di ambang pintu “Sepertinya kau sudah melihat semuanya.”
“Apa yang baru saja ku lihat?”
“Malapetaka yang akan terjadi di masa depan.”


Seon Mi terduduk di halaman rumahnya dan masih tidak percaya apa yang tadi dilihatnya.
“Apa yang aku lihat sungguh akan terjadi?


Seon Mi teringat perkataan Soo Bo Ri saat berada di toko umum.
“Mencegahnya agar tidak terjadi itulah tugas Sam Jang.”


Sa Oh Jeong, PK, Sekertaris Ma, dan Bu Ja sedang berkumpul di tempat Peri Ha untuk menyambut tahun baru. Mereka menunggu Sam Jang yang belum datang, tapi mereka tidak tahu alasan kenapa dia belum datang.


Mereka sedang melihat tayang penyambutan tahun baru yang akan ditandai dengan pemukulan bel oleh seseorang dari keluarga berpengaruh. Tahun ini yang akan melakukannya dalah Kang Dae Sung, Profesor dari Jurusan Sejarahdi Universitas Korea. Dia bersia 45 tahun dan disebut-sebut sebagai Pengejar Tahta Kepresidenan. Sa Oh Jeong mengatakan bahwa surga terus mengawasi Kang Dae Sung. Lalu dia harus berteman dekat dengannya jika bertemu. Tiba-tiba Bu Ja  mengatakan dia mengenal orang itu.
“Aku pernah melihatnya.”
“Apa kau ingat sesuatu? Dimana kau melihatnya?” Oh Jeong bertanya pada Bu Ja.


Bu Ja mengingat dia melihat pria itu saat berada di Kingdom fitness. Tapi sepertinya Bu Ja mengingat hal lain tentang pria itu.


Oh Gong sedang menghitung dan membersihkan botol-botol minumannya, lalu dia mendengar Seon Mi memanggilnya.
“Ketika larangan minumku berakhir, kau yang pertama ku minum! Dia memanggilku...”


Oh Gong datang ke hadapan Seon Mi.
“Apa kau menjadi orang baru karena tahun baru? Ini bahkan belum semenit.”
“Ya. Situasinya berubah.”
“Apa yang berubah?”
“Aku melihat dunia hancur.”


Soo Bo Ri memberi tahu Ma Wang tentang penglihatan Seon Mi yang ditunjukkan guci di toko umum.
“Sam Jang melihat gerbang neraka terbuka di bumi?”
“Sam Jang menerima surat perintah, itu saja.”
“Apa hanya manusia yang bisa menghentikannya?”
“Itu sebabnya Son Oh Gong ada di sisinya.”
“Lalu aku harus mengubah pertanyaanku sebelumnya. Penawaran yang perlu di buat untuk mencegah pintu neraka tidak terbuka. Apa itu Sam Jang? Atau Son Oh Gong?”


Seon Mi menatap Oh Gong dan memohon padanya.
“Son Oh Gong, aku, maksudku Sam Jang harus melakukan hal yang sangat menakjubkan. Kau bilang tidak ingin melindungi manusia yang tidak penting bukan? Setelah aku melihatnya, menerima perlindungan dari Dewa Agung, setara dengan surga... begitu penting bagi seseorang sepertiku.”
“Kau pasti merasa terhormat.”
“Kau sangat kuat kan?”
“Iya.”
“Tidak peduli apa yang terjadi padaku, kau akan selalu di sampingku, bukan?”
“Itulah yang terus aku katakan padamu.”
“Kalau begitu, sudah cukup. Lalu aku bisa melakukannya. Son Oh Gong, Dewa Agung, setara dengan surga, lindungi aku sampai akhir.” 
Oh Gong diam beberapa saat  lalu berbicara pada Seon Mi.
“Baik. Bahkan jika dunia hancur, aku akan melindungimu."
Advertisement


EmoticonEmoticon