1/12/2018

SINOPSIS I'm Not a Robot Episode 23 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS I'm Not a Robot Episode 23 BAGIAN 1


#23 – Sebuah Kebenaran


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS I'm Not a Robot Episode 22 Part 2

Min Kyu melongo saja saat Ji A menyuruhnya jangan khawatir dan percaya padanya. Ji A berjanji akan mengeluarkannya dari sana. “Jika kita tidak keluar, aku bisa gila,” batin Ji A. IA berkata bahwa dengan satu panggil saja, maka bantuan akan datang.


Tapi ternyata di gudang itu tidak ada sinyal. Ji A sampai melompat-lompat dan berkelling gudang untuk mencari sinyal, tapi masih belum berhasil. Lagi-lagi Ji A berbalik dengan tiba-tiba hingga membuat Min Kyu terkejut.


Ji A mengembalikan ponselnya dan tetap meminta Min Kyu tidak khawatir, karena ia tahu caranya bertahan hidup di jalanan. “Percayalah padaku,” kata Ji A yakin.


Tapi saat terdengar suara cicitan tikus, Ji A langsung naik ke atas mobil troli dan wajahnya terlihat ketakutan. Min Kyu menatapnya dengan heran. Ji A lalu beralasan kalau dia akan menyalakan lampu mobilnya.


Ia yakin dengan menyalakan lampu, maka orang akan tahu kalau di dalam gudang ada orang. Setelah dinyalakan, Ji A melangkahkan kakinya turun dari mobil. Tapi karena suara tikus terdengar lagi, Ji A mengangkat kembali kakinya.


Min Kyu tersenyum. Ji A masih belum menyerah. Ia memberanikan diri untuk turun dan kembali mengoceh bahwa Min Kyu tidak perlu khawatir dan mereka akan segera keluar. “Tidak apa-apa. Dulu aku terbiasa terkunci dan kedinginan.


Tiba-tiba terdengar suara perut Ji A yang lapar. Min Kyu mengecek apakah perutnya yang berbunyi. Sedangkan Ji A merasa malu. Untuk mengatasi malunya, Ji A tertawa.


Ji A: “Kau pasti terkena gangguan pencernaan. Kau makan banyak sashimi.”
Min Kyu: “Itu bukan aku.”
Ji A: “Lalu apa itu aku?” (lalu perutnya berbunyi lagi) “Itu aku. Aku belum makan dari siang.”


Sementara Baek Gyoon mencoba memperbaiki mobil, Pai menghubungi Ji A dan Min Kyu. Tapi keduanya tidak bisa dihubungi. Baek Gyoon tertawa simpul dan merasa keadaan semakin buruk. Ia lalu menyuruh Pai masuk ke dalam mobil karena hawanya sangat dingin.


Pai: “Tidak apa-apa. Aku akan memperbaikinya bersamamu.”
Baek Gyoon: “Kau akan terkena flu.”
Pai: “Aku akan baik-baik saja.”


Baek Gyoon: “Dengarkan aku. Aku tidak bisa konsentrasi, jika kau ada di sampingku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Masuklah.”
Pai: “Itu karena kau lelah. Beristirahatlah dulu.”
Baek Gyoon: “Kita tidak punya waktu” (lalu menguap)
Pai: “Istirahat sejenak tidak akan membunuhmu. Jika kau kelelahan dan terus menyetir, itu bisa membunuh kita nanti.”


Baek Gyoon tertawa dan berkata, “Baiklah, aku akan masuk ke dalam.” Ia lalu masuk ke dalam dan Pai tersenyum di belakangnya.


Ji A mengajak Min Kyu untuk mencari sesuatu yang hangat untuk menutupi tubuh mereka selama menunggu orang yang akan datang nanti. Ji A lalu melihat tumpukan jerami. “Tunggu, tunggu. Apa maksudmu kita akan menutupi tubuh kita dengan itu?” tanya Min Kyu.


Ji A bilang ia akan menjadikannya alas dan menutupinya dengan sesuatu yang bersih. Tiba-tiba ia mengeluh jarinya sakit, sepertinya tertusuk potongan jerami yang tajam. Min Kyu lalu menarik Ji A dan mendudukkannya. Ia mengecek lukanya dan mengatakan kalau ada serpihan jerami disana.


Min Kyu mengambil kartu kreditnya dan menggunakannya sebagai alat bantu untuk mengeluarkan serpihan itu. Dan dia berhasil.


Ji A menatap Min Kyu dan kembali terpesona. Min Kyu juga melihatnya dan tersenyum. Ia lalu berdiri dan menghindari tatapannya.


Pai: “Kau baik-baik saja?”
Baek Gyoon: “Tentang apa?”
Pai: “Kau ingin kembali bersama Ji A. Ketika kau mengetahui kalau Ji A dan Min Kyu saling mencintai, apa yang kau rasakan?”
Baek Gyoon: “Ketika Min Kyu gagal meng-inpu apa yang dia inginkan pada Aji-3, Aku sudah putus asa bahwa dia mungkin sudah jatuh cinta. Sekarang, aku tidak bisa menemukan Ji A yang kukenal.”
Flashback..


Baek Gyoon mengingat Ji A yang dulu selalu tersenyum padanya dan menyemangatinya, tidak peduli apapun yang Baek Gyoon katakan.


“Dia pergi untuk kebaikan. Aku sadar kenapa kami putus, dan aku ingin memperbaiki kesalahanku. Tapi Ji A bukan lagi Ji A yang sama, dan aku juga seperti itu,” kata Baek Gyoon. Pai bilang itu menyedihkan, lalu bertanya apakah rasanya sakit. “Ya, itu menyakitkan. Tapi dibandingkan rasa sakit yang mereka alami, itu tidak ada apa-apanya,”  jawab Baek Gyoon.


Pai lalu menyalakan musik. Baek Gyoon kemudian mengajak Pai istirahat sampai lagu itu selesai.


Pai menatap Baek Gyoon yang mulai memejamkan matanya.


Ji  A menyuruh Min Kyu naik, karena itu akan menjadi tempat tidur Min Kyu. Min Kyu bertanya bagaiama dengan JI A hanya karena ada satu tempat tidur. Ji A beralasan kalau dia akan berolahraga. Min Kyu kebingungan kenapa berolahraga pada malam hari seperti itu.


“Apa dia ingin aku berbaring di sebelahnya? Dan mati karena jantungku meledak?” batin Ji A. Kemudian dia beralasan kalau berolahraga adalah cara terbaik agar tetap hangat di malam yang dingin.


JI A mulai melompat-lompat. Min Kyu tersenyum dan mulai melihat-lihat sekeliling. “Hong Joo, kemarilah,” ajak Min Kyu. Ia menemukan sebuah alat pemanas. Mereka juga menemukan sedikit makanan.


Min Kyu dan Ji A duduk di atas bagian belakang mobil pick up yang sebelumnya sudah diberi jerami. Alat pemanas sudah dinyalakan dan mereka bersiap untuk makan.


JI A membukakan sebuah botol minuman untuk Min Kyu, tapi Min Kyu memberikan juga untuk Ji A. “Suara perutmu tadi sepertinya menunjukkan kalau makanan yang ada disini tidak cukup untukmu,” kata Min Kyu sambil menahan tawanya.


Baek Gyoon sudah tertidur nyenyak, dan Pai masih menatapnya sambil tersenyum. Dengan berhati-hati dan tanpa suara, Pai membuka pintu mobil lalu keluar.


Ji A mulai menikmati makanannya. Dia bertanya apakah Min Kyu tidak bisa berhenti menatapnya.


Min Kyu: “Ini sangat aneh.”
JI A: “Apa aku sangat mirip dengannya?”
Min Kyu: “Tidak.”
Ji A: “Lalu apa yang aneh.”
Min Kyu: “Kau bilang kau kedinginan, kau lapar, kita makan mie cup bersama dan minum arak beras. Semua hal yang aku ingin Aji-3 lakukan, kau sedang melakukannya sekarang.”


“Itu karena aku manusia,” kata Ji A. Min Kyu bertanya berapa usia Ji A dan memberitahukan usianya sendiri yaitu 29 tahun. Ji A bilang mereka sebaya.


Min Kyu: “Ah, bisakah kita berteman?”
Ji A: “Tidak.”
Min Kyu: “Kenapa?”


Ji A balik bertanya kenapa harus berteman dengannya. Min Kyu bertanya lagi kenapa Ji A tidak menanyakan namanya. “Aku tahu namamu, Hong Joo,” kata Min Kyu. Ji A bilang ia memang tidka mau tahu siapa nama Min Kyu.


“Kim Min Kyu, aku bukan hanya sekedar pelanggan atau tamu. Aku Kim Min Kyu,” jelas Min Kyu tanpa ditanya. Ji A mengalihkan pembicaraan dengan mengambil botol minuman Min Kyu, tapi Min Kyu mengambilnya kembali. “Aku menyukai situasi ini. Semuanya,” lanjut Min Kyu.


Ji A: “Pacarmu akan salah paham kalau mendengarnya.”
Min Kyu: “Aku tidak punya pacar. Ngomong-ngomong, arak beras ini sangat enak.”


Tiba-tiba lampu mobil troli mati, sehingga suasana kembali remang-remang.


Pai ternyata turun untuk memperbaiki mobil.


Min Kyu bertanya apakah di luar hujan. Ji A menjelaskan kalau suara yang Min Kyu dengar adalah suara ombak dan angin. “Terdengar seperti hujan,” ucap Min Kyu. Ji A bertanya apakah Min Kyu suka hujan. “Aku punya kenangan tak terlupakan. Pada saat hari hujan, aku mendapatkan ciuman pertamaku,” kata Min Kyu sambil tersenyum.


Min Kyu lalu berkata kalau dia ingin membicarakan sedikit lagi tentang Aji-3 dan kalau Ji A merasa tidak nyaman, maka Ji A bisa mendengarkan saja. Ji A tidak merespon. Min Kyu kembali bicara bahwa ia belum pernah membicarakan tentang Aji-3 pada orang lain.


“Itu karena hal yang aku lewati bersamanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jadi agak sulit dimengerti orang lain. Tapi aku ingin bicara denganmu tentangnya,” kata Min Kyu. “Tapi aku tidak akan melakukannya, jika kau tidak mau.” Dan Ji A masih tetap diam. [crstl]

Advertisement

3 komentar

Ditunggu part 2 nya kak...

Suiiip dtunggu kelanjutanx

Aku setia menunggu sinopsis y...semangaaat...😊😊


EmoticonEmoticon