1/04/2018

SINOPSIS Black Knight Episode 9 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Black Knight Episode 9 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Puji
All images credit and content copyright: KBS2

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Black Knight Episode 9 PART 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Black Knight Episode 10 PART 1

Young Mi tengah sibuk memotret dirinya bersama lukisan jaman dulu. Ia bergaya bak model menampilkan senyumnya yang paling menawan. Tak disangka, berkat lukisan jaman dulu itu, pengunjung di butik Young Mi meningkat dan pakaiannya banyak terjual.


Bibi Lee berlarian kecil memasuki butik Young Mi. Young Mi pangling melihat Ibunya tak biasa-biasanya menggunakan riasan penuh. Bibi Lee mengelak, kata siapa? Dia cuma mengoleskan BB krim saja. Young Mi mengernyit, sepertinya Bibi sangat memperhatikan penampilannya belakangan ini.

Bibi Lee curhat tentang keanehan Tuan Park yang memintanya menjadi wakil dan menandatangani kontraknya lebih dulu. Young Mi pikir mungkin Tuan Park khawatir Hae Ra menambahkan persyaratan, makanya dia meminta bantuan Ibunya.

Bibi Lee berandai-andai kalau Tuan Park jangan-jangan ingin menikah dengannya. Young Mi berdecak tak percaya, Ayahnya Gon terlalu murah untuk menikah dengan seseorang. Dia harus berbagi kekayaan kalau menikah, dia tak akan mau.


Bibi kesal dengan ucapan Young Mi yang sudah menghancurkan khayalannya. Ia berniat pergi, namun perhatiannya tertuju pada lukisan kuno yang terpajang disana. Bukankah itu wanita dari Sharon Tailor? Kenapa dia berpakaian seperti pria?

Young Mi mengernyit, mereka berdua tak mirip sama sekali. Itu juga bukan wanita. Bibi Lee semakin kesal, mata mereka sungguh tak tajam sama sekali. Young Mi penasaran dan memperhatikan lukisan itu terus, apa mereka mirip?


Sharon tengah berkaca pada wajah baru yang masih mengkilap. Ia teringat pembicaraannya dengan Ji Hoon semalam. Cara yang ia sarankan untuk memisahkan Soo Ho dan Hae Ra adalah dengan mencarikan wanita baru untuk Soo Ho. Sharon yang akan mendapatkan Soo Ho dan ia akan membantu Ji Hoon mendapatkan Hae Ra kembali.

Ji Hoon pun ingat ucapan Soo Ho tentang tipe idealnya. Soo Ho mengatakan kalau dia menyukai wanita yang memegang wajan. Walhasil, Sharon pun tengah berlatih memegang wajan dengan baik.

“Bagaimana rasanya dicintai? Aku sudah menunggu 200 tahun. Aku ingin mengetahuinya. Soo Ho, biarkan aku mencari tahu.” Batin Sharon.


Karena permintaan dari Hae Ra, Soo Ho akhirnya menelepon Ji Hoon untuk mengakhiri pelatihan fitnes mereka. Soo Ho menggeram marah, sampai Gon yang berdiri disampingnya pun terkejut.

“Menurutmu Pak Moon itu orang yang bagaimana? Maksudku.. aku tidak mengerti kenapa dia di bisnis real estate kalau dia lulus sekolah kedokteran di luar negeri.”

Lebih tepatnya bisnis restorasi perkotaan, ralat Gon. Iya, dia memang memiliki segala keindahan. Tapi dia juga punya rumor menyeramkan. Saat bekerja di luar negeri, kompetitornya banyak yang meninggal dan terluka. Tapi semua yang dilakukan oleh Soo Ho berkembang pesat. Anggur, biji kopi, dan bahkan kasmir Mongolia.


Dia banyak mengenal orang luar. Dan terakhir yang ia dengar, ada seorang importir anggur yang berniat menipunya. Tapi orang yang menipu itu malah terluka parah. Ia mematahkan semua anggota tubuhnya.

“Apa kau pikir dia punya orang yang bekerja untuknya? Kau tahu, pembunuh kontrak atau preman.”

“Ini mungkin hanya kebetulan. Rumor itu mungkin dari para pesaingnya.” Pikir Gon.


Soo Ho saat ini dalam perjalanan. Ada seorang pengendara ngebut mengejar mobil Soo Ho. Ia berteriak-teriak menyuruh Soo Ho menepikan mobilnya. Soo Ho mengkhawatirkan pengendara mobil lain sehingga ia meminta Sekretarisnya untuk menepikan mobil saja. 

Tapi belum sempat menepikan mobil, pengendara yang ngebut itu sudah memotong jalan Soo Ho hingga mereka harus mengerem mobil mendadak.


Soo Ho menemui pemilik rumah untuk kembali bernegosiasi. Namun Pemilik Rumah tidak mau menjual padanya, dia memilih untuk menjual pada orang yang menawarkan harga tinggi. Sekretaris Soo Ho awalnya ingin menaikkan harga tawarannya, tapi Soo Ho melarang dan melepas tanah itu.

Soo Ho pamit pergi dan berpesan supaya ia menjaga kesehatannya. Dan bertepatan saat itu, Pemilik Rumah menerima telepon yang mengabarkan kalau anaknya mengalami kecelakaan mobil.


Sekretaris Soo Ho meminta maaf, ini diluar dugaannya. Seandainya saja kalau dia punya cukup banyak informasi. Soo Ho tidak mempermasalahkannya, lagipula akan lebih aneh kalau semuanya berjalan dengan mulus. Lebih baik, mereka meluaskan bisnis dibidang lain.


Mobil Soo Ho melewati jalanan. Tepat saat itu, ada mobil ambulans yang tengah mengangkut seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan. Orang yang mengalami kecelakaan adalah pengemudi ngebut yang sebelumnya mengejar-ngejar Soo Ho.


Hae Ra meminta izin untuk pergi menemui penjahit. Bos langsung mengizinkannya, dia dan Joo Hee juga akan menemui banyak penjahit yang luar biasa. Kepala Manager tiba-tiba datang mengusik mereka. Dia bertanya, kapan mereka akan berangkat ke pameran?

Bos berkata kalau dia akan berangkat setelah makan siang. Kepala Manager menyuruh mereka untuk membeli kimbap dan makan di mobil. Mereka membutuhkan banyak tim termasuk Hae Ra. Dia akan mengenakan kostum spesial, yaitu kostum maskot.

Bos mencoba membujuk Kepala Manager supaya menggantikan tugas itu dengan karyawan magang. Sayangnya, Kepala Manager tak mau tahu dan tetap menugaskan Hae Ra. Hae Ra pun menenangkan rekannya, “Tak apa-apa. Bagaimanapun juga ini akan dingin. Aku akan bersyukur memakainya.”


Telepon Hae Ra berdering, Hae Ra bergegas mengangkatnya. Orang yang meneleponnya adalah Soo Ho. Dia memintanya untuk merekomendasikan tempat fotografer hebat disana. Hae Ra tersenyum menyarankan agar Soo Ho pergi ke Seoul saja.

“Apa kau punya janji saat makan siang?” tanya Soo Ho.

“Aku harus pergi ke pameran kami.”

“Itu mengecewakan. Aku akan meneleponmu kembali.”


Bibi Lee datang ke tempat Tuan Park untuk mengantarkan tonik. Tuan Park awalnya menolak namun Bibi Lee kekeuh membawakan semangkuk tonik. Dia melihat ruangan Tuan Park yang penuh barang antik. Rupanya dia hobi mengoleksi barang usang.

Barang usang? Tuan Park menekankan kalau semua barang-barang disana bisa bernilai 10 apartemen. Uwah.. Bibi Lee terkejut, berarti dia sangat kaya? Tuan Park berdehem mengiyakan ucapannya.

Tuan Park kemudian berniat membuka sebuah kotak antik. Dia kesulitan hingga Bibi Lee menawarkan diri untuk membukakannya. Namun celakanya, begitu kotaknya terbuka, mahjong yang ada didalamnya langsung terlempar berantakan.
Flashback


Tuan Park mengingat masa mudanya, dimana ia bertemu dengan seorang penulis yang sangat mahir bermain mahjong. Penulis itu tak lain adalah Sharon. Tuan Park muda bertanya, apakah tokoh utama novelnya adalah pemain Mahjong?


Sharon tersenyum menceritakan kisah hidupnya. Suatu masa di musim dingin, orang-orang berkumpul untuk bermain mahjong. Dan ia bersama Baek Hee selalu memenangkan permainan mahjongnya.


Ia pun berhasil membawa uang banyak. Namun lawannya tak terima dan berusaha menghajarnya. Tapi untungnya, Baek Hee sangat pintar dalam beladiri dan mampu menumbangkan mereka semua.


Mereka membeli tanah dengan uang itu. Mereka juga menyumbangkan dana untuk kelompok kemerdekaan. Selain menjadi penjudi, tokoh utama dalam novelnya (yang tak lain ceritanya sendiri) juga melakukan penyelundupan.

Mereka berhasil mengumpulkan uang dan lahan. Sharon bertanya pendapat Tuan Park mengenai cerita novelnya. Tuan Park malah bosan mendengarkan kisah itu, kedengarannya sangat membosankan.


“Ya kau benar. Betapa hidup yang menggelikan. Ini adalah blok mahjong yang beruntung. Ini semua milikmu sekarang. Lakukan apapun yang kau bisa untuk menjadi kaya, Chul Min.” Ujar Sharon.
Flashback end


Semangat Tuan Park seketika meletup-letup mengingat ucapan Sharon. Dia harus membangun apartemen studio, tak perduli apapun. Dia harus lebih kaya.. lebih kaya lagi dari yang sekarang dimilikinya.


Ji Hoon berjalan dengan membusungkan dada. Sharon terus mempehatikannya dan menyuruhnya bersikap lebih percaya diri. Dia harus bisa menonjolkan pakaiannya saat pertunjukan. Ji Hoon menghela nafas lelah, putus asa karena tak bisa melakukannya.

“Kau harus membawa Hae Ra menjauh dari Moon Soo Ho. Aku akan membimbingmu.”


Hae Ra harus bertugas mengenakan kostum maskot. Ia menari-nari menghibur anak-anak yang menontonnya. Tapi seketika ia malu dan menutup wajahnya saat Soo Ho datang kesana. Padahal, Soo Ho sendiri tak bisa mengenali dia karena mengenakan kepala boneka.

Soo Ho mendaftar untuk melakukan perjalanan bisnis, ia membawa karyawannya pula. Ketua Tim memuji Soo Ho yang luar biasa mau membiayai liburan karyawannya. Soo Ho mengatakan kalau ia melakukan perjalanan ini berkat penjelasan Hae Ra yang luar biasa.

Ia merekomendasikan agar Hae Ra menjadi Karyawan Terbaik bulan ini. Kalau tidak, maka ia akan menariknya ke perusahaan miliknya. Ketua Tim tertawa, tentu saja. Namun Soo Ho menekankan, dia tak bercanda. Ketua Tim terkejut karena Soo Ho bersungguh-sungguh, tapi dia menolak untuk memberikan karyawan terbaik di timnya.


Hae Ra yang penasaran menguping pembicaraan mereka dibalik pot-pot. Direktur Lee yang memergokinya pun menyuruh dia untuk kembali menyambut tamu. Direktur Lee melihat keberadaan Soo Ho, dengan sok akrab, ia menyambut kedatangannya.

Soo Ho menerima uluran tangannya dengan senyum ramah. Tapi tangannya menggenggam tangan Direktur Lee sampai Direktur Lee meringis kesakitan.


Saat Soo Ho akan pergi dari tempat pameran, Hae Ra menghadangnya. Ia melenggak-lenggokan tubuhnya kemudian memeluk Soo Ho. Soo Ho cuma merenges keheranan. Hae Ra melanjutkan tugasnya menyambut tamu.


Soo Ho masih terus memperhatikan Hae Ra. Lama-kelamaan, dia pun mengenali siapa sosok dibalik maskot itu. Soo Ho tersenyum manis dan meraih bunga mawar yang terpasang di papan ucapan selamat.

Ia menghampiri Hae Ra dan menyodorkan mawar itu. Hae Ra menerimanya. Soo Ho berniat mengelus kepala maskot yang digunakan Hae Ra. Tapi ia membatalkannya dan menepuk pipi boneka itu dengan iseng.


Hae Ra melepaskan kepala maskotnya dan menatap Soo Ho dalam-dalam. Soo Ho balas menatapnya dengan lembut, “Aku mencintaimu.”

Pft.. Hae Ra tak bisa menyembunyikan tawa kecilnya. Soo Ho pun tersenyum dan berjalan pergi darisana.


Ji Hoon menatap sosoknya di pantulan cermin, ia tampak berbeda mengenakan jas hasil rancangan Sharon. Sharon berkata kalau pakaiannya itu bisa bergerak sesuai kehendaknya. Ji Hoon bertanya, apa itu berarti kau bisa mengendalikan orang yang mengenakan pakaianmu?

Tidak seperti itu juga, tapi Sharon bisa menyampaikan perasaannya melalui pakaian rancangannya. Meskipun, itu tak bekerja dengan baik pada Hae Ra. Kekeke.. Ji Hoon terkekeh geli dengan penuturan Sharon. 

“Kau aneh. Itu membuatmu menarik.”

“Aku menarik, bukan?” tanya Sharon semangat.

Tentu, jawab Ji Hoon sekenanya. Sharon ingin membuat pakaian untuk Soo Ho, maukah Ji Hoon memberikannya seolah-olah dia yang sudah mempersiapkannya. Baiklah, Ji Hoon menyanggupi permintaan itu. Sharon senang dan mengajaknya minum. Ji Hoon setuju, berhubung dia sudah dibuatkan jas maka dia yang akan mentraktirnya.


Melihat restoran tempat mereka makan, Sharon jadi segan karena itu restoran mahal. Ji Hoon kelihatan seperti orang miskin. Ji Hoon menghela nafas, salah satu pelanggannya adalah member VIP disana dan ia biasa mendapatkan kupon. Baiklah, kalau begitu Sharon tak akan segan untuk makan.


Gon tiba-tiba muncul menyapa mereka. Dia datang kesana bersama Ayahnya. Sharon memperhatikan Tuan Park, tapi dia tak mengenali Tuan Park karena posisi duduknya memunggungi dia. 

Ji Hoon memperkenalkan Sharon sebagai desainer kenalannya. Gon menebak kalau stelan yang ia gunakan malam ini adalah rancangan Sharon. Dia tampak sangat berbeda. Gon pun menawarkan supaya mereka bisa minum bersama setelah makan malam.


Ji Hoon memberitahu Sharon kalau Gon juga tertarik dengan Soo Ho. Mungkin, mereka bisa mendapatkan sesuatu darinya. Gon menemui Ayahnya, dia menawarkan kalau Ayahnya mau merancang baju. Tuan Park menolak mentah-mentah, desainer apa? Baju yang penting bisa menutup tubuh.


Baek Hee tengah merenung disebuah tempat dengan lilin yang menerangi ruangan.

“Aku telah berdosa karena kebodohan manusia. Aku ingin menusukkan belati sebagai ganti air mataku. Batas antara sesuatu yang bisa kau lihat dan sesuatu yang tidak bisa kau lakukan telah runtuh. Berilah kami kebijakan. Tolong selamatkan kami dari lubang ini dimana kami tidak menjadi tua atau mati. Tolong selamatkan kami.” Doa Baek Hee penuh kepedihan.


Baek Hee pergi ke perpustakaan buku kuno mencari buku Jeom Bok. Tapi ia belum bisa menemukannya. 


Tak jauh dari tempat Baek Hee, ada seorang pria muda tengah melukis gambar bunga menirukan lukisan pada sebuah gulungan tua.


Soo Ho tengah berada di kantornya. Ia memberi label pada beberapa titik di denah, Toko Buku, Pemandian Air Panas dan Yoon Dal Hong. Namun Soo Ho kemudian mencoret label Yoon Dal Hong karena ia tak berhasil mendapatkan tanah itu.


Di restoran, Gon memberitahukan ayahnya kalau ia berhasil menggagalkan Soo Ho untuk membeli tanah Geumsam-dong. Tuan Park menanyakan identitas pemiliknya. Gon mengatakan kalau pemiliknya adalah Yoon Dal Hong.

Kontan Tuan Park agak marah karena Gon menangani ini sendirian. Apa dia tahu kalau Gon adalah anaknya? Gon memastikan kalau ia tak menyebut nama Ayahnya. Apakah Ayah mengenalnya?
Flashback


Tuan Park menemui Yoon Dal Hong, ia memberikan uang untuknya mencari rumah. Yoon Dal Hong dengan antusias mengatakan kalau dia ‘benar-benar’ tak melihat apapun. Dia yakin kalau Tuan Park tak sengaja dan tak melihat ada orang disana.

Tuan Park mengancam supaya dia tutup mulut. Tuan Yoon mengerti, tapi dia masih penasaran dengan rumor penghancuran lab untuk dijadikan apartemen. Tuan Park geram dengan kecerewetan Tuan Yoon. Tuan Yoon ketakutan dan memutuskan untuk buru-buru turun dari mobil. Dia akan pura-pura tak mengenalnya meskipun bertemu dijalan.
Flashback end


Tuan Park bertanya-tanya apakah Soo Ho mengenal Tuan Yoon. Dia mengabaikan hal itu untuk saat ini dan menyuruh Gon menjual tanah itu pada temannya. Gon menolak karena dia melakukan ini atas kemauannya sendiri. Tuan Park membentaknya supaya menurut saja.

Nafsu makan Tuan Park hilang, ia pun pergi meninggalkan Gon. Gon kelihatan kecewa dengan ayahnya dan menenggak wine-nya sampai habis.


Gon menghampiri Sharon dan Ji Hoon untuk minum bersama.


Sementara itu, Soo Ho tengah sibuk mempersiapkan hidangan makan malam yang cantik. Mulai dari kue sampai camilan lain yang ia tata rapi.


Sayangnya, sampai malam Hae Ra belum juga pulang. Hae Ra meminta maaf karena pulang telat. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya karena ada pameran. Kenapa Soo Ho sendiri belum tidur?

Soo Ho mengaku tengah menantikan Hae Ra. Hae Ra tersenyum, bodoh. Ia duduk disamping Soo Ho kemudian menyenderkan kepalanya di pundak Soo Ho. “Aku memikirkan ini dalam perjalanan pulang. Aku harus pindah.”


“Kenapa?”

“Karena aku mulai menyukai Moon Soo Ho, lebih dan lebih. Kurasa aku akan mulai bergantung dan bersandar padamu. Aku tak suka itu.”

Soo Ho menyuruh Hae Ra untuk bergantung saja padanya. Hae Ra menolak, dia tak mau berakhir seperti orang bodoh. Soo Ho memastikan itu tak akan terjadi, karena ia adalah pengajarnya, maka Hae Ra tak akan bodoh.

“Kau tahu,kadang-kadang kau bisa benar-benar jahat. Seolah-olah kau sedang bermain dengan hatiku yang lugu. Aku tak ingin sepenuhnya mempercayaimu.” Hae Ra berniat bangkit ke kamarnya.

Soo Ho menahan tangan Hae Ra, “Aku terluka karena aku menyukaimu sejak kecil. Aku menghasilkan uang untukmu. Dan aku kembali ke sini untukmu. Kau dapat mempercayaiku. Saat kau berkencan denganku, kau bisa belajar bahwa ada seorang pria yang bisa kau percaya.”

Reflek, Hae Ra mengecup bibir Soo Ho. Tapi sepersekian detik kemudian, ia terkejut dan berniat pergi ke kamar.

Namun Soo Ho menahan tangannya. Ia perlahan mendekatkan kepalanya dan mencium Hae Ra dengan mesra.
Advertisement


EmoticonEmoticon