1/06/2018

SINOPSIS Black Knight Episode 10 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Black Knight Episode 10 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Puji
All images credit and content copyright: KBS2

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Black Knight Episode 9 PART 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Black Knight Episode 10 PART 2

Setelah ciuman mesra mereka, Hae Ra terlelap di pundak Soo Ho. Soo Ho terbangung memperhatikan wajah polos Hae Ra yang sedang tertidur. Ia mengecup puncak kepalanya, “Hae Ra-ya.. Aku senang.”


Tak lama kemudian, tinggal Hae Ra yang terbangun. Ia menyelimuti tubuh Soo Ho kemudian mengecup pipinya. Ia bergegas untuk meneruskan tidurnya di kamar. Setelah Hae Ra pergi, Soo Ho tampak tersenyum kecil dengan mata terpejam.


Gon sudah mabuk parah. Sementara Gon, ia masih sadar dan berkeliling di butik Sharon. Ia penasaran bagaimana Sharon bisa merancang pakaian untuk pria dan perempuan. Sharon kesal karena ia sudah menjelaskannya berulang kali, dia itu genius.

Gon minta dibuatkan pakaian juga. Sharon tidak mau janji, lihat saja nanti. Gon bertanya bagaimana ia bisa kenal dengan Soo Ho. Sharon mengaku kalau dia kenal Soo Ho melalui Hae Ra.

“Hae Ra?”


Sharon menunjuk Ji Hoon dan mengatakan kalau dia adalah pacar dari temannya yang bernama Jung Hae Ra. Gon mengaku kalau ia juga punya teman namanya Hae Ra, dia bekerja di biro perjalanan. Sharon terkejut, kau juga mengenalnya?

Gon menoleh ke arah Ji Hoon dengan tak percaya, “Ji Hoon pacar Hae Ra?”


Esok paginya, Hae Ra sarapan bersama Bibi Lee dan Soo Ho. Setiap kali matanya bertatapan dengan Soo Ho, ia tidak bisa menutupi sipu malunya. Bibi Lee bertanya, jam berapa selamam Hae Ra pulang?

Hae Ra dan Soo Ho menjawab bersama kemudian terkikik geli. Bibi Lee menatap keduanya dengan heran, apa ada sesuatu yang baik terjadi? 

“Tidak.” Jawab keduanya lagi. Mereka pun kembali tertawa. Bibi Lee hanya bisa memperhatikan mereka berdua dengan bingung.


Di butiknya, Sharon tengah menjahit sebuah kemeja putih dengan begitu berhati-hati.


Soo Ho mengantar Hae Ra ke tempat kerjanya. Soo Ho berpesan agar Hae Ra tidak marah pada Direktur Utama. Saat pertemuan, mereka mujinya berarti mereka sangat memikirkannya. Hae Ra mengerti, ia akan menerima telepon dari pelanggan dengan ceria.

Sampai, Soo Ho bertanya apakah Hae Ra tak akan menyampaikan sesuatu sebelum pergi? Hae Ra pun menyemangati Soo Ho, “Fighting.” Soo Ho kembali bertanya, apa tidak ada yang lainnya?


Hae Ra bingung. Soo Ho melepas sabuk pengamannya kemudian mengecup pipi Hae Ra, “Semangat. Aku mencintaimu.”

Hehehe. Hae Ra turun dari mobil dengan perasaan begitu gembira.


Karyawan Soo Ho membawakan kopi untuknya ke ruangan. Namun Soo Ho menyuruhnya untuk tidak melakukan itu lagi, dia bisa mengambil sendiri kalau mau. Dia tak ingin menjadi bos yang semacam itu.

Eih.. Karyawan Soo Ho tidak masalah. Oiya, apakah Direktur sudah mendengar mengenai berita Yoon Dal Jung? Putranya mengalami kecelakaan mobil yang mengerikan. Itu membuatnya menjadi tak waras. 

Soo Ho kelihatan agak terkejut, “Seberapa buruk anaknya terluka?”

Koma, jawab karyawannya. Karyawannya sangat menyayangkan, kalau dia tidak mengkhianati mereka mungkin kejadian itu tak akan terjadi. Soo Ho menyuruhnya jangan berbicara begitu.


Ji Hoon dan Gon pergi ke pemandian air panas. Ji Hoon sangat ceria, mungkin karena efek wine yang mereka minum. Gon bertanya, kau seorang jaksa bukan? Sepertinya Hae Ra belum mengatakan pada Tuan Moon.

Ji Hoon terhenyak namun tak mengiyakan ucapan Gon. Gon berkata kalau dia dan pacarnya adalah teman Hae Ra sejak kecil. Ji Hoon mengakuinya, tapi masalahnya sekarang sudah berakhir.


Mereka berdua kemudian minum sup pereda pengar. Ji Hoon coba mencairkan suasana dan menceritakan kisah sulitnya dimana ia terpaksa melakukan semua itu. Gon heran, darimana dia tahu banyak mengenai hukum?

Ji Hoon mengaku kalau dia dan orangtuanya tinggal di Sillimdong. Disana banyak orang belajar dan membicarakan soal hukum untuk ujian. Gon penasaran bagaimana cara dia mengelabui Hae Ra. Ji Hoon sendiri tak berniat seperti itu, dia sedang pergi ke kantor distrik untuk mengambil dokumen. 

Dia melihat wanita setengah baya tengah menangis. Ia membantunya dan wanita itu langsung mengira dia sebagai jaksa. Mereka kemudian bertemu lagi saat ia membuat reservasi untuk neneknya. Tapi, menyukainya kan bukan dosa. Memang benar, namun Gon menegaskan kalau membodohinya adalah sebuah kesalahan.

Baiklah, Ji Hoon paham. Kalau memang ada yang ingin ia katakan, katakan saja. Gon memberitahu kalau Soo Ho sedang punya masalah karena seorang Tuan tanah berubah pikiran. Dia akan mencari cara lain...


Dikantornya, Sekretaris Soo Ho panik karena Tuan Park kembali mengirimkan orang. Jadi dia akan pergi ke pemandian. Sebelum pergi, Soo Ho menyuruhnya untuk mengirimkan bunga Tuan Yoon. Itu adalah etika dalam berbisnis.

Soo Ho melihat petanya. Dia memikirkan sebuah cara untuk menemukan ganti tanah Tuan Yoon.


Sementara di depan sebuah pemandian, ada banyak demonstran menentang pembangunan yang dilakukan oleh Soo Ho. Tuan Park menemui seorang nenek dan membuat kesepakatan dengannya.


Tuan Park membuat janji makan dengan Baek Hee. Di memesan tempat dimana ia sering bertemu dengan Seo Rin (Sharon). Dia mencecar Baek Hee supaya memberitahukan keberadaan Seo Rin Noona-nya. Dia masih hidup, bukan?

Baek Hee tidak mau mengatakan apapun, lebih baik dia tak bertemu dengannya. Tuan Park terkejut, berarti dia memang masih hidup? Baek Hee membenarkan, tapi dia tak mau bertemu dengan orang lain. Dia hanya ingin dikenang sebagai gadis cantik, sementara dia sudah tua sekarang.

“Apa pekerjaan suaminya?”

“Mana ada yang mau menikah dengan gadis nakal sepertinya.” Jawab Baek Hee membuat Tuan Park tertawa, dia masih lajang rupanya.


Hae Ra menelepon Sharon untuk mengajaknya bertemu. Ia menggunakan berbagai alasan untuk menemuinya namun Sharon tetap menolak keras.


Sharon menggunakan kemeja yang ia buat. Ia meminta saran pada Asistennya. Asistennya menilai kalau pakaiannya jelek. Sharon mengatakan kalau pakaian itu bukan untuknya tapi untuk pria yang ingin ia beri kehangatan tubuhnya (makanya dia memakai pakain itu sebelum memberikannya).


Tuan Park menunjukkan koleksi barang antiknya. Namun tak ada satu pun yang membuat Baek Hee tertarik. Dia menginginkan benda semacam lukisan, doa, gambar atau surat. Tuan Park tidak memilikinya. Dia menunjukkan sebuah cincin yang ditemukan di perut ikan. Itu adalah cincin keberuntungan.

Cincin itu rupanya cincin Baek Hee yang hilang, ia pun menerimanya. Sebagai gantinya, Tuan Park minta dipertemukan dengan Seo Rin. Baek Hee tak bisa memastikan, ia akan memberitahunya dulu.


Di kantor, Soo Ho sedang rapat dengan karyawannya. Dia ingin membeli semua tanah yang mengelilingi tempat yang akan dibangun supaya proyeknya batal. 

Salah satu karyawannya menunjuk sebuah titik, itu adalah bangunan tua yang dimiliki seorang nenek bernama Seo Rin. Tanpa pikir panjang, Soo Ho menyuruh anak buahnya menemui nenek tersebut.


Asisten Sharon datang dengan riang menunjukkan foto dirinya menyamar menjadi seorang pria di lukisan tua yang di posting Yoo Mi di instagram. Sharon sungguh terkejut melihat lukisan dirinya, apalagi like dari postingan instagramnya banyak.


Sharon bergegas pergi ke butik Young Mi. Sharon langsung mempertanyakan tentang lukisan itu padanya dengan ketus. Young Mi tak terima diketusi seperti itu. Namun Hae Ra yang berada disana menyela ucapan Young Mi dan meminta maaf.


Hae Ra mengelap sofa dan mempersilahkannya duduk. Ia kemudian memuji-muji rancangan bajunya dan meminta dia untuk bekerjasama memasarkan pakaiannya. Rancangannya sungguh unik. Sharon dingin menolak tawarannya, dia cuma mau mereka menurunkan lukisan tua disana.

Asisten Sharon sependapat dengan mereka. Sharon ini memang jenius. Dia tak berusaha keras tapi dia memiliki banyak properti real estate. Sharon mendelik pada Asistennya supaya dia berhenti mengoceh. Hae Ra sekali membujuknya, bayangkan kalau dia bisa menjadi terkenal.


Sharon membayangkan dirinya berada disorotan kameran dan menjadi amat terkenal. Bahkan, Soo Ho pun mengakuinya dan membawakan sebuket bunga untuknya. Dia terharu karena akhirnya Soo Ho mau mengakui dia.


Tapi angan-angan manisnya segera sirna saat ia membayangkan para nenek yang sempat menjadi asistennya mengatakan kalau Sharon ini tak menua. Dia itu monster. Umurnya bahkan sudah 250 tahun. Berita tentang usia Sharon pun menjadi headline di koran.


Hae Ra berbicara sampai berbusa meminta Sharon mempertimbangkan tawarannya. Sharon tidak mau, dia hanya mau membeli lukisan tua disana. Young Mi bersedia memberikannya sebagai hadiah kalau dia mau bekerjasama dengannya.

Sharon bangkit dari sofa dan melemparkan cangkirnya ke arah lukisannya. Semua orang terhenyak, Young Mi menyuruh rekannya menelepon polisi. Sharon santai menyuruh mereka membungkus lukisannya dan kirimkan tagihan ke tempatnya. 

Ia pun pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hae Ra dkk masih terperangah dengan perangai kasar Sharon.


Soo Ho datang menemui Hae Ra di cafe. Hae Ra khawatir kalau dia sedang sibuk. Soo Ho pun pamit pergi.. tapi bukan pergi beneran, perginya supaya bisa duduk di samping Hae Ra. Hae Ra ketawa geli, dia ingin meminta saran, bagaimana caranya membujuk seseorang dalam berbisnis? Haruskah ia berjalan terus atau berhenti?

Do it, jawab Soo Ho. Hae Ra meminta pendapat Soo Ho mengenai Sharon, dimata seorang pengusahan. Soo Ho menilai kalau Sharon itu unik.


Sharon sedang makan camilan manis, dia masih kesal karena sudah membujuk dengan manis tapi gagal. Haah.. dia masih belum puas dengan camilan manis itu. Dia mengajak Asistennya untuk mencari cake.

Asistennya menolak, dia mau mundur saja. Dia tak mau punya bos yang kasar. Sharon tetap menariknya pergi, “Kau bisa mengundurkan diri setelah makan cake.”


Soo Ho menyarankan agar Hae Ra bekerja lebih keras lagi. Kalau dia ingin menggunakan bakat seseorang, maka ia harus siap melakukan pekerjaan besar untuknya. Ia bisa menjadi seperti sekarang pun karena dia bekerja keras.

“Soo Ho kami, kau jadi anak laki-laki dewasa sekarang.”

“Aku tidak keberatan kau berbicara padaku seperti itu, tapi jangan lakukan didepan umum.”

“Kenapa kau mengkhawatirkan orang lain? Kita bersenang-senang hari itu.” ujar Hae Ra menirukan gaya Soo Ho.


Sharon menggunakan mesin jahit tua miliknya. Ia menjahit dengan perasaan getir, “Becky. Mungkin suatu hari nanti, kita mungkin akan menjadi badut di dunia ini. Apa tidak mungkin bagi kita untuk menjadi tua bersama orang yang kita cintai?”
Advertisement


EmoticonEmoticon