12/25/2017

SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 1 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: tvN

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey PREVIEW
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Korean Odyssey Episode 1 Part 2

King Woo Ma sedang melihat berita di tv tentang kebakarang hutan  di Selatan Provinsi Gangwon yang menyebabkan kerusakan parah selama dua hari.


Seorang siswai bernama Jin Seon Mi sedang dibully oelh teman-teman sekolahnya. Mereka mengatakan bahwa dia adalaha hantu.
“Dia hantu! Dia hantu! Dia hantu! Dia hantu! Jin Seon Mi, enyah kau! Kau menyeramkan. Sekolah ini untuk manusia! Pergi ke sekolah hantu”!


Saat sedang duduk di dalam kelas, Jin Seon Mi melihat bahwa gurunya sudah masuk ke kelas lalu dia memberi hormat. Tapi teman yang lain tidak melakukan sepertinya, karena mereka tidak melihat ada guru yang sudah masuk ke kelas.
“Apa yang dia lakukan?”
“Aku tidak tahu. Kenapa dia seperti itu?”
“Dia pasti gila.”


Guru itu berubah menjadi sesosok hantu yang mendekati Jin Seo Mi.
“Cuma kau siswa yang bisa mendengarku. Kau siswa yang baik! Aku harus membalas jasamu!”


Jin Seon Mi ketakutan lalu membuka payungnya untuk mengahalau hantu itu, teman-temannya ketakutan melihat tingkah Jin Seo Min dan mereka semua pergi menjauh.
“Pergi!” Jin Seo Mi berlindung di balik payung sambil menangis.

Guru yang sebenarnya datang ke kelas dan melihat muridnya semua berlari kecuali Jin Seo Mi.
“Anak-anak, kenapa? Seon Mi, apa yang kau lakukan? Seon Mi, kau tidak kenapa?”
Seon Mi tidak menjawab karena masih ketakutan.


Sepulang sekolah, hantu itu masih mengikuti Seon Mi. Seon Mi akan membuka payungnya tapi hantu itu memegang payung Seon Mi.
“Hei, kau mau kemana? Ayo pergi bersama! Ayo ke sekolah dan belajar denganku. Seorang siswa harus belajar!”
“Tidak. Kubilang pergi!”
“Kau murid yang bandel. Kau harus dihukum! Kau harus dihukum.”


Tiba-tiba hantu itu terlempar ke udara dan menjadi asap hitam lalu menghilang.


Di belakang Soen Mi berdiri seorang pria dengan topi dan membawa payung. 
“Ahjussi yang mengusirnya? Bagaimana caranya?”
Pria itu adalah King Woo Ma. Dia mengehentakkan payungnya ke tanah sekali lagi lalu daun-daun di tanah beterbangan. Seon Mi mengatakan kalau payung miliknya tidak bisa melakukan seperti itu.


“Ahjussi pasti bukan manusia juga.”
“Jadi kau tidak takut, bisa dibilang aku seperti peri.”
“Aku tidak takut padamu, Ahjussi. Aku takut pada yang tadi.”
“Kau pasti melihat hal-hal yang tidak di lihat manusia. Aku mencari manusia istimewa sepertimu. Kau...lulus!”
King Woo Ma lalu mengatakan kalau dia membutuhkan batuan  dari orang seperti Seon Mi. Seon Mi bertanya jika dia membantunya apakah mereka bisa bertukar payung. King Woo Ma menyetujuinya.


King Woo Ma lalu mengajaknya menuju sebuah terowongan, Seo Mi diminta untuk mengikuti jalan itu untuk menuju sebuah rumah kecil lalu masuk dan mengambil sebuah barang.
“Kipas dengan nama cantik "Putri Kipas Besi." Kau tahu gunung timur di sana telah terbakar selama seminggu? Untuk memadamkan apinya, aku butuh kipas itu. Jika kau membawanya padaku, Aku akan mengganti payung ini dengan milikmu.”


Seo Mi mengikuti perintah kin Woo Ma dan menemukan sebuah rumah di tengah hutan, lau dia masuk ke dalamnya. Seo Mi masih mengingat apa yang dikatakan King Woo Ma.
"Kau harus segera keluar setelah mengambil kipas itu. Apapun yang kau lihat dan dengar, ...abaikan saja.”
“Baiklah! Aku akan mengingatnya. Aku akan kembali. Ahjussi bisa mengambilnya. Kenapa meminta bantuanku?”
“Rumah itu sangat aneh karena tidak terlihat oleh manusia... Tapi hanya manusia yang bisa masuk. Hanya manusia khusus sepertimu yang bisa masuk. Naiki tangga, di sudut ruangan, pasti ada kipas itu.”


Seo Mi sudah mendapatkan kipas itu, dia memasukkannya ke dalam jaket lalu segera keluar.


Namun ada seorang pria yang menghadangnya. Dia adalah Son Oh Gong.
“Aku akan membunuhnya karena kupikir lalat, tapi ternyata manusia! Hei nak, sedang apa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?”
Seo Mi hanya diam saja karena masih mengingat pesan King Woo Ma.


Seo Ji kembali berjalan tapi Son Og Gong mengangkat badannya.
“Kau datang ke rumah orang dengan tangan kosong? Kau tidak membawa buah tangan? Alkohol misalnya, ha? Aku sangat ingin minum alkohol. Bahkan ada cemilan lezat disini. Tidak ada alasan bagi anak manusia untuk melihat atau mendengar suaraku.” Son Oh Gong melepasknannya karena Seon Mi tetap diam saja.


Saat Seon Mi kembali berjalan, Son Oh Gong menjatuhkan payungnya.
“Hei, payungmu jatuh.”


Seon Mi mengambil payungnya dari lantai.
“Kau bisa mendengarku? Hei. Jadi kau bisa mendengarku. Kenapa datang kesini? Mengapa kau mengambil kipas di sakumu itu?”
Seon Mi hanya diam saja tapi akhirnya dia berbicara bahw ada peri pria yang menyuruhnya.
“Peri? Apa dia tinggi dan berkumis seperti ini? Dia mengaku peri?”
“Anda kenal Ahjussi itu?”


“Aku sangat mengenalnya. Tapi bagaimana bisa anak manusia sepertimu menjadi pesuruhnya?”
“Aku bukan pesuruh. Kami baru saja membuat kesepakatan.”
“Kesepakatan? Kau membuat kontraknya?”
“Kontrak? Tidak.”
“Kau dalam masalah besar. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi padamu jika keluar sekarang? Sesuatu yang menakutkan bisa menyerangmu!”
“Itu tidak akan terjadi. Tidak akan.”
“Ayo pergi bersama Oppa. Oppa akan melindungimu.”


Sebelum mereka pergi. Son Oh Gong meminta Seon Mi untuk mematikan semua lilin yang ada di meja. Seon Mi akan melakukannya tapi dia ragu dan berkata agar Son Oh Gong sendiri yang mematikannya tapi dia tidak menjawab.
“Anda tidak bisa mematikannya. Hanya aku yang bisa. Sekarang, Anda meminta bantuanku?”
“Ya, anak manusia. Aku minta bantuanmu. Jika kau mematikannya, aku bisa keluar.”
“Bukankah ini berbahaya?”
“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.”


“Lima lilin itu adalah Gunung Marmer. Energi dari sana menahanku seperti ini!”
Son Oh Gong menunjukkan mantra di pergelangan tangan dan kaki serta lehernya. 
“Jika kau menyingkirkannya dan melepaskanku, aku bisa melindungimu dari sana. Mengerti?”
“Bagaimana dengan kontrak?”


“Kau pintar juga, meski masih kecil. Baiklah. Beritahu syaratnya.” Son Oh Gong mendekatnkan telinganya ke arah Seon Mi.
“Lindungi aku. Aku bertemu monster yang sangat menakutkan.”
“Kau bertemu iblis, bukan? Hidup ini sulit, bukan? Siapa namamu?”
“Jin Seon Mi.”
“Jin Seon Mi. Aku Dewa Agung, titisan surga, Son Oh Gong. Jika kau memanggil namaku saat dalam masalah, takut, dan bahaya... aku akan selalu muncul dan melindungimu.”
“Kalau begitu, kita akan membuat kontrak.”


Son Oh Gong lalu mengulurkan telapak tangannya dan Seon Mi menyapukan telapak tangannya sendiri, lalu muncul bola bercahaya dari tangan Oh Gong kemudian Oh Gong menggenggamnya.
“Sekarang, singkirkan Gunung Marmer yang menjengkelkan itu untukku.”


Saat Seon Mi mematikan setiap lilin, maka satu mantra dari tubuh Oh Gong menghilang.


Saat semua lilin sudah mati Oh Gong merasa sangat bebas dan tiba-tiba dinding yang mengelilingi mereka menghilang begitu pun juga dengan rumah itu.


Tiba-tiba mereka sudah berada di sebuah tanah padang rumput.
“Aku keluar? Aku keluar. Aku keluar. Aku keluar! Aku akhirnya keluar!” Oh Gong merenggangkan  tubuhnya dan berteriak.
“Rumahnya menghilang!”
“Iya. Penjara yang mengurungku sudah hilang! Kerja bagus, Jin Seon Mi! Aku harus
segera minum alkohol terlebih dulu. Aku ingin minum denganmu tapi kau akan menolak, kan? Permisi.”


Seon Mi menarik tangan Oh Gong.
“Kemana? Anda harus disini dan melindungiku mulai sekarang.”
“Benar. Kita membuat kontrak.”
“Pertama, bawa aku ke tempat yang aman. Aku tinggal dengan nenekku. Aku akan mengenalkanmu padanya.”


“Tunggu, biarkan aku berpikir.”
“Anda tidak mau pergi denganku?”
“Jin Seon Mi, kau terlihat sangat pintar. Kau pasti tahu apa itu penjara. Orang macam apa yang terkurung disana?”
“Orang jahat.”
“Lalu bagaimana dengan 'aku' yang terkurung disana?”
“Apa Anda orang jahat?”
“Iya. Aku akan memperkenalkan diri. Aku sangat jahat.”
“Jika Anda orang jahat, Anda tidak akan menuruti kontraknya?”
“Meski aku tidak suka, kami tidak bisa memutuskan kontrak begitu saja dengan manusia. Menurut kontrak kita, saat kau memanggil namaku, aku harus melindungimu. Jin Seon Mi, kau ingat namaku?”


“Tentu saja! Namamu...”
Saat Seon Mi akan mengucapkan “Son Oh Gong”, Oh Gong menjentikkan jarinya di pelipis Seon Mi. Kemuadian keluar cahaya bulat yang diterbangkan oleh Oh Gong.
“Namamu... siapa namamu?”
“Kau tidak akan ingat karena aku sudah mengeluarkannya. Astaga. Ingatanmu telah hilang.”
“Jahat!” 
“Ya, sudah kubilang aku orang jahat. Dan ada kabar buruk lainnya. Kau mungkin akan dihukum karena membebaskan penjahat ini.”
“Hukuman macam apa?”
“Jangan terlalu takut. Semoga kau bertahan. Aku pergi sekarang.”


Son Oh Kong mengambil kipas dari dalam jaket Seon Mi.
“Peri, tolong jangan pergi!”
“Kapanpun kau memanggil namaku, aku akan datang dan melindungimu. Tentu saja, kau tidak akan bisa memanggil namaku. Dan, Jin Seon Mi, aku bukan peri.mAku... pokoknya, selamat tinggal!”
Son Oh Gong kemudian berputar dan pergi bagaikan angin topan.


Seon Mi menangis sambil berusaha mengingat nama Son Oh Gong.
“Siapa namanya? Siapa namanya?”


25 Tahun Kemudian.
Seorang pria dari agen real estate sedang berbicara dengan sepasang suami istri pemilik rumah. Mereka sedang menunggu kedatangan CEO Hanbit Real Estate.


Sorang wanita masuk ke dalam ruangan dan membuka payungnya.
“Ini dia CEO Agen Konsultan Properti Hanbit, Jin Seon Mi. Tepuk tangan.”
“Kurasa tidak perlu tepuk tangan.”
“CEO, mereka ini pemilik bangunan.”
“Iya. Halo. Lee Han Joo, berapa banyak orang disini?”
“Orang?? Lima.”


Seon Mi menghitung kaki di bawah payungnya tapi dia melihat ada enam pasang kaki di ruangan itu.


“Aku mengerti alasan mereka memasang tempat ini dengan harga sangat murah untuk penjualan yang mendesak. Pasti banyak hal buruk ditempat ini, bukan?” Seon Mi bertanya pada pemilik tempat itu.
“Beberapa rumor buruk pasti sudah menyebar...tapi tidak ada yang aneh dengan bangunannya!”
“Aku akan mengambilnya.”


Seon Mi berdiri di depan sebuah lemari besi, dan saat penandatanganan kontrak sudah selesai, Seon Mi meminta orang-orang meninggalkannya di tempat itu.


Saat semua orang sudah pergi, ruangan itu menjadi gelap dan keluar asap hitam dari pintu lemari besi.


Asap itu keluar bersama sesosok hantu yang merangkak mendekati Seon Mi. Seon Mi membuka payungnya tapi hantu itu berhasil menepisnya hingga payungnya terlempar.


Seon Mi melempar hatu itu dengan biji-bijian dari genggaman tangannya. Dan hantu itu berhasil dikalahkan.
“Apa kau harus merangkak keluar seperti itu agar terlihat seram?”
“Sakit!”
“Pergi! Kubilang pergi! Kubilang pergi! Pergi! 


Seon Mi mengikat rambut hantu itu yang sedang duduk di hadapannya.
“Lihat. Ini jadi kurang menakutkan dan rambutmu lebih baik di ikat seperti itu.”
Hantu itu hanya diam saja.


Seon Mi lalu duduk dan berbicara dengan hantu itu.
“Jadi kau mati saat kehilangan 30 kg demi audisi?”
Hantu itu mengganguk.
“Kau pasti lapar. Ada permen. Kau mau?”
Seon Mi menyuapi hantu itu lalu memberinya makanan kecil dan permen.
Seon Mi mendengarkan cerita hantu itu.
“Coba bernyanyi. Aku akan dengar.”


Seon Mi mencoba bertanya pada hantu itu tentang peri yang pernah ditemuinya.
“Apa kau punya kenalan peri? Dulu, aku membuat kontrak yang salah dengan peri jahat. Tapi akhir-akhir ini, aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya. Saat ini, hal-hal yang terjadi waktu itu terasa seperti mimpi.”
Advertisement


EmoticonEmoticon