12/07/2017

SINOPSIS I'm Not a Robot Episode 2 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS I'm Not a Robot Episode 2 BAGIAN 2


Semua shock! Termasuk si robot kecil.


Ji A membawa sebuah kotak berpita di belakang motornya.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: MBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS I'm Not a Robot Episode 2 Part 1

Ji A: “Kenapa kalian berdiri saja di situ?”
Ponakan: “Ayah sudah pulang, Bibi.”
Kakak ipar: “Kakakmu tahu. Maaf”
Mereka berdua lalu terburu-buru masuk ke dalam kamar.


Kakaknya Ji A, Jin Bae, ternyata adalah sekretaris Min Kyu. Jin Bae memarahi Ji A karena kembali memulai bisnis dan meminjam 10.000 dollar kepada istrinya. “Bukankah sudah kubilang agar mencari pekerjaan?”  kata Jin Bae mengejar Ji A sambil mengacungkan sandalnya.


Ji A meminta maaf dan mencoba mengalihkan perhatian kakaknya dengan mengatakan bahwa ini ulang tahun kakaknya, dan dia sudah membelikannya kue.


Kakaknya melemparkan kue itu. Ji A sedih. Kakak ipar dan ponakannya yabg sedari tadi mengintip lalu menutup pintunya.


Ji A: “Tidak bisakah kau menyemangatiku? Ayah mendukungmu sepenuh hati. Kau masuk ke universitas yang bagus dan menjadi pengacara. Kau menikah, memiliki Dong Hyun, dan segalanya.”


Kakaknya tidak peduli dan menyuruh Ji A berhenti melakukan bisnis-bisnisnya. “Jangan tidur di siang hari, ikutlah kursus atau carilah pekerjaan.”


Ji An bilang tidak mudah mencari pekerjaan dan ia berjanji akan melunasi hutang-hutangnya.


Tim Santa Maria sibuk mencari spare part baru untuk perbaikan Aji-3. Hoktal sangat menyesal dan bersedia mati. Hoktal dan Ssanip belum berhasil menemukannya.


Pai: “Aku dapat. Ada satu di Laboratorium C. Tapi akan dikirim dari luar negeri dan baru sampai dua hari lagi.”
Ssanip: “Ah, apakah Three-Part Baton akan memberi kita tambahan dua hari?”
Baek Gyoon: “Telepon. Pai, kau yang meneleponnya. Wanita akan bekerja lebih baik dalam hal ini bukan?”
Pai: “Apa aku terlihat seperti wanita di matamu?”
Baek Gyoon: “Aku saja yang menghubunginya?”


Baek Gyoon meminta perpanjangan dua hari pada Min Kyu. Tapi Min Kyu bilang waktu untuk mengetes Aji-3 hanya tinggal besok, karena dua hari lagi Daeyang Shipbuilding termasuk Tim Santa Maria akan dijual keGrup Bold dari Inggris.


Baek Gyoon mencari informasi di internet tentang John Martin pemimpin Grup Bold. Sebuah artikel menyebutkan bahwa John adalah pemburu hak paten.


“Dia akan membongkar Aji-3 dan menjual bagian-bagiannya,” pikir Baek Gyoon. Tidak mau itu terjadi, ia membuka laci mejanya dan mengambil foto Jo Ji A.


Hari sedang hujan dan Ji A mulai mabuk di depan mini market. Ia bicara sendiri, “Aku akan membayarnya. Aku akan membayar hutangku padamu.”


Ia mengangkat ponselnya yang berdering dan berkata bahwa dia tidak butuh pinjaman lalu menutup teleponnya. Teleponnya berdering lagi, dan Ji A kembali mengatakan bahwa ia tidak butuh pinjaman. “Jika kau ingin memberiku uang, beri aku 10.000 dollar!”


Baek Gyoon: “Sudah lama ya. Ini aku. Apa kau tidak ingat suaraku?”
Ji A: “Ingatanku buruk. Siapa kau? Apa kita dekat? Kau telalu akrab.”
Baek Gyoon: “Ini Hong Baek Gyoon. Pria jamur.”


Ji A sudah mulai mabuk jadi bicaranya tidak terlalu nyambung. “Aku akan memberimu 10.000 dollar, kau ada dimana?” tanya Baek Gyoon.


Ji A baru ingat siapa itu pria jamur. Saat melihat Baek Gyoon sudah datang, ia memakai penutup kepalanya dan berusaha untuk melarikan diri.


Sayangnya, ia malah menabrak Baek Gyoon. Karena terlanjut ketahuan, Ji A menyapanya.
Ji A: “Lama tidak bertemu..”
Baek Gyoon: “Rambutmu.. Kenapa.. Bagaimana.. Kapan kau memotongnya? Kenapa kau memotonya. Dadamu.. Berapa lapis bra-mu?”


“Oke.. Kau bisa memakai wig dan memakai bra tanpa bantalannya,” lanjut Baek Gyoon. Ji A heran karena harusnya mereka saling menanyakan kabar karena sudah lama tidak bertemu.
Baek Gyoon: “Sepertinya keadaanmu tidak terlalu baik. Aku senang.”
Ji A: “Kerutan wajahmu bertambah. Aku juga senang.”
Baek Gyoon: “Apa? Kenapa kau sangat perhatian?”


Ji A mengoreksinya bahwa seharusnya Baek Gyoon memaknai setiap ucapannya, bukan hanya mendengar kata yang ingin ia dengar. “Kita sudah putus, professor. ”


Baek Gyoon lalu memberikan uang 10.000 dollar sebagai bayaran atas kerja sambilan selama tiga jam yang harus Ji A lakukan esok hari. “Pekerjaan apa itu..?”


Ji A datang ke Laboratorium Santa Maria.


Ssanip: “Mammamia...” Ia lalu menjatuhkan dokumen yang dipegangnya.


Hoktal: “Kau sudah bangun, Aji? Bagaimana kau memperbaiki tanpa sparepart baru? Tim kita memang yang terbaik. Kau memakai wig yang berbeda. Kenapa dadamu sangat besar? Apa baterainya lebih besar? Jangan khawatir. Oppa akan memperbaikimu.”


Ji A sama sekali tidak mengerti apa maksud Hoktal.


Baek Gyoon lalu memperkenalkannya sebagai Jo Ji A, model Aji-3.
Hoktal: “Model? Jadi dia manusia?”
Ssanip: “Bagaimana kalian bisa saling mengenal?”
Ji A: “Tunggu. Model apa yang kalian maksud?”


Ji A sangat terkejut saat melihat Aji-3. “Kenapa? Kenapa aku ada disana?”


Ji A lalu menceritakan apa yang menimpanya pada temannya. Temannya mengambil kesimpulan kalau Baek Gyoon masih menyukai Ji A. Itulah alasannya dia membuat Aji-3 dengan menggunakan wajah Ji A.


Temannya menyarankan agar JI A menerima pekerjaan itu. Ji A menolak keras. Ji A lalu pulang ke rumah.


Jin Bae: “Kau kakak iparnya sekarang, bukan teman. Kenapa kau memberikannya pinjaman? Dia tidak akan berubah karena kau terus memanjakannya.”
Kakak ipar: “Baiklah, aku mengerti. Tidak bisakah kau membiarkannya pulang ke rumah?”
Jin Bae: “Tidak. Dia tidak bisa pulang sebelum ia membayar hutangnya.”
Ji A yang mendengar pembicaraan kakaknya di luar tidak jadi masuk rumah.


Sementara itu, Min Kyu kehilangan kalungnya. Ia berusaha mencari di antara baju-bajunya.


Ji A kembali ke laboratorium. Ia menganggap uang 10.000 dollarnya adalah biaya royalti atas penggunaan wajahnya di robot Baek Gyoon, oleh karena itu ia akan melaksanakan pekerjaannya secara gratis.


Baek Gyoon mengatakan itu sama saja sebenarnya. Mereka lalu saling memastikan bahwa pekerjaan ini tidak melbatkan perasaan mereka berdua.


Min Kyu masih mencari kalungnya. Kini giliran mobil yang diperiksa. Lalu ia mengingat saat Direktur Jo mencekiknya.


Saat itu, kalungnya terlepas dan terselip di lengan sweater Ji A.


“Direktur Jo yang gila itu....”


Ji A mulai berlatih menjadi robot. Hoktal mengajari cara berjalan robot masa kini. “Berjalanlah secara perlahan. Saat kau berbelok, tengokkan kepalamu dulu baru tubuhmu.”


Ji A mencobanya, tapi belum berhasil.


Ssanip lalu mengajarkan cara meletakkan barang secara hati-hati dan tanpa suara. Ji A mencobanya, dan masih belum berhasil.


Saat bersamaan, seseorang terus menerus menghubungi ponsel Ji A


Mereka mulai mendandani Ji A menjadi Aji-3.


“Begini saja? Aku pikir ada sesuatu yang berbeda, mengingat aku akan berperan sebagai robot.” Kata Ji A.


Pai lalu mengeluarkan kotak softlens dan Baek Gyoon mengeluarkan alat komunikasi berbentuk jam tangan. “Softlens itu akan menjadi kamera dan akan berhubungan dengan jaringan kami,’ jelas Baek Gyoon.


Softlensnya mulai diaktifkan.“Luar biasa,” kata Ji A.
Tim Santa Maria menjelaskan bahwa sekarang Ji A akan terhubung dengan Aji-3. Aji-3 akan melihat dan mendengar apa yang Ji A lakukan. Setelah itu di softlens akan terlihat apa yang harus Ji A katakan. Baek Gyoon memberi contoh.


Baek Gyoon: “Hai, Aji-3.”
Aji-3: “Aku cinta padamu, Tuan. Apa yang bisa kubantu?”
Layar menampilkan perkataan Aji-3 yang harus juga dikatakan oleh Ji A.


“Apa kau benar-benar menyuruhnya mengatakan ‘aku cinta padamu’ setiap hari? Apa kau masih memiliki perasaan padaku?” tanya Ji A yang membuat Baek Gyoon gugup.


Baek Gyoon: “Aku sudah bilang agar kau tidak salah paham. Aji-3 memiliki segala kekuranganmu. Dia sempurna. Dia lebih cerdas darimu.”
Ji A: “Dia hanya robot. Tidak ada bedanya dengan boneka.”


Baek Gyoon: “Aji-3, analisa pasar saham di Eropa. Aji-3, baca artikel ilmu pengetahun terbaru”


Ji A: “Wow.. daebak.. Ini luar biasa. Aku merasa seperti jenius.”
Baek Gyoon: ‘IQ-mu hanya 94. Aji-3 yang jenius.”


Hoktal dan Ssanip bersiap mengantar Aji-3 palsu dengan mobil pabrik yang terlihat sudah karatan dimana-mana.


Sesampainya di gerbang rumah Min Kyu. Mereka bingung bagaimana caranya masuk, apakah harus menekan bel. Lalu, gerbangnya terbuka sendiri.


Ji A sudah di dalam mobil. Ponselnya berdering lagi. “Hey brengsek,apa yang kau inginkan?”


Min Kyu: “Kau mengambil kalungku bukan?
Ji A: “Apa? Kenapa kau selalu menuduhku menghilangkan barangmu?”
Min Kyu: “Kau menarik kalungnya dari leherku. Sebaiknya segera kembalikan kalungku, sebelum aku menuntutmu.”


Ji A yang merasa tidak tahu apa-apa tentang kalung Min Kyu, menyuruhnya untuk menemui psikiater. Ji A baru mengeceknya dan melihat 156 panggilan tak terjawab dan 45 pesan dari Min Kyu yang ia beri nama ‘Si Brengsek’


Hoktal dan Ssanip mengeluarkan sebuah kotak besar.


Ponsel Ji A kembali berbunyi, “Kalau kau meneleponku sekali lagi, aku akan menghubungi polisi.” “Kalau kau tidak mengembalikan kalungku, aku akan mengejarmu sampai... “ Ji A mematikan ponselnya.


Hoktal dan Ssanip membuka kotaknya. Min Kyu langsung menyuruh mereka pergi.


Min Kyu: “Hai, Aji-3..”
Ji A: “Aku mencintaimu, Tuan. Apa yang bisa aku...”


Ji A: “Astaga! Astaga...”
Min Kyu pun sama kagetnya! [crstl]


Advertisement


EmoticonEmoticon