SINOPSIS Black Knight Episode 9 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Black Knight Episode 9 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Puji
All images credit and content copyright: KBS2

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Black Knight Episode 8 PART 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Black Knight Episode 9 PART 2

Seorang petugas patroli mengetuk pintu mobil Sharon. Ia memperingatkan supaya Sharon tak memarkirkan mobilnya disana. Apa dia tinggal disana? Sharon membenarkan. Namun petugas patroli kira dia tidak pernah melihat wanita muda sepertinya disana.

Wanita muda? Sharon terkejut dan langsung melihat pantulan wajahnya di cermin. Petugas Patroli sekali lagi mengingatkan dia untuk memindahkan mobil.


Sharon teringat akan pertemuannya dengan Biksu. Biksu mengatakan kalau ada kekuatan besar yang melindungi suaminya. Sharon terperanjat, bagaimana cara untuk menyingkirkan kekuatan itu? Kalau sampai dia punya kekasih lain, lebih baik suaminya pergi atau mati saja. Ia juga tidak akan bisa membiarkan anaknya bersama wanita lain hidup. 

Biksu memperingatkan kalau perbuatan jahatnya itu hanya akan membuatnya terluka saja. Sharon tidak perduli, ia tak akan tinggal diam. Sekali lagi, Sharon bertanya kekuatan apa yang melindungi Myung Soo?

“Ini adalah hati yang sangat menghibur. Dia memiliki hati yang tidak kau miliki.” Ujar Si Biksu.


Soo Ho bersender memperhatikan Hae Ra. Hae Ra heran, apa ada sesuatu yang ingin dikatakannya? Soo Ho bertanya mengenai kematian Ayah Hae Ra. Ia ingin menyapanya. Dimana beliau dikubur?

Hae Ra mendengar kalau Ayahnya dikremasi dan abunya disebar di gunung. Ia sangat muda saat itu jadi dia tak bisa mengurusnya, ibu sedang sakit sehingga ia harus pindah. Ia sungguh kacau saat itu.

Soo Ho meminta maaf. Hae Ra heran, kenapa Soo Ho tiba-tiba ingin menemui Ayahnya. Soo Ho mengaku kalau dia terluka selama ini. Ia bersyukur dan rasa syukurnya itu lebih besar dari lukanya. Hae Ra mengerti, dia minta maaf saat itu, dia bahkan tak membela Soo Ho.

Soo Ho tersenyum, “Tak apa.”


Bel rumah berbunyi. Hae Ra kira Bibi tidak akan datang malam ini. Soo Ho mengatakan kalau dia memanggil seorang pelatih. Berat badan Hae Ra naik jadi mereka harus berlatih bersama-sama.


Hae Ra enggan berlatih, tapi Soo Ho memastikan kalau pelatihnya tampan. Hae Ra melihat interkom.. eh, tamu mereka bukan si Pelatih melainkan Sharon. Sharon menyapa mereka dengan ramah. Dia datang membawa pakaian dan akan mengajarkan Hae Ra cara menggunakannya.


Bel rumah kembali berbunyi. Soo Ho menjemput pelatih sewaannya yang tak lain adalah Ji Hoon. Ji Hoon dan Hae Ra sama-sama terkejut hingga tidak bisa bereaksi apapun. Sharon sempat mendelik kaget pula.. tapi kemudian ia ingat, saat mencium pipi Ji Hoon, ia menggunakan wajah Hae Ra.


Soo Ho yang tak tahu apa-apa pun mengajak Ji Hoon untuk mengambil minum. Setelah keduanya pergi, Sharon bertanya pada Hae Ra, bukankah dia pacarnya? Dia pernah mengiriminya foto tanpa pakaiannya.

“Kami sudah lama bubar. Ini juga membuatku panik karena dia ada di sini.” Jawab Hae Ra.

“Apa kau selingkuh darinya.”

“Tentu tidak!”


Ji Hoon menghabiskan segelas air minum dengan tergesa-gesa. Ia bertanya apakah Soo Ho berlatih dengan dua wanita. Soo Ho mengelak, ia pun memanggil Hae Ra untuk memperkenalkan dirinya.

Hae Ra meminta izin untuk tidak berlatih hari ini. Dia ada urusan pekerjaan. Ji Hoon reflek menaikkan nada bicaranya dan menyuruh Hae Ra untuk tetap berlatih. Soo Ho heran, apa dia marah?

“Aku tidak marah. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik dalam hal yang kulakukan.” Ujarnya.


Hae Ra pakaian buatan Sharon. Sharon bergumam mengatai Hae Ra tampak menyedihkan dengan pakaian itu. Sharon berkata kalau Hae Ra pasti sangat bahagia. Hae Ra membenarkan, pakaiannya sangat cantik.

Sharon bertanya apakah Hae Ra sudah punya alasan? Katanya, dia akan memberikan apapun padanya kalau ia bisa memberikan alasan hidup untuknya. Hae Ra yang sedang melamun tidak mendengar ucapan Sharon, maaf? Dia sedang memikirkan hal lain. 

Suasana hatinya rusak, Sharon menyuruh Hae Ra melepas bajunya. Hae Ra meminta maaf. Sekali lagi, dia menawarkan supaya Sharon mau bergabung dalam proyek mereka yang menyenangkan. Sharon tak perduli dan bertanya, apa Pak Moon tahu kalau Ji Hoon adalah pacarnya?

“Aku bilang bukan!” sentak Hae Ra.


Soo Ho dan Ji Hoon memulai latihannya. Ji Hoon menggunakan kesempatan itu untuk bertanya, bagaimana bisa dia tinggal bersama wanita cantik sepertinya? Soo Ho menganggapnya sebagai takdir.

“Apa dia tipe idealmu? Seperti apa tipe idealmu?”

“Ya. Wanita yang membawa panci.”

Ji Hoon memuji keunikan selera Soo Ho.


Sharon sudah selesai dan pamit pulang. Hae Ra mulai melakukan latihannya. Namun ia melakukannya dengan ogah-ogahan. Ji Hoon yang sebal menyuruhnya untuk squat 50 kali. Soo Ho mengernyit, bukankah itu terlalu banyak?

Tidak kok. Itu sudah pas untuk pemula, jawab Ji Hoon. Ia juga mempersilahkan Soo Ho untuk menyudahi latihannya.


Begitu Soo Ho pergi, Ji Hoon langsung mencecar Hae Ra. Bukankah Soo Ho itu orang yang brengsek? Dia orang yang punya segalanya.

Hae Ra fokus squat, “memang benar.”

Ji Hoon menyarankan agar Hae Ra keluar dari sana. Dia akan terluka. Hae Ra masa bodoh dan mengungkit kejahatan Ji Hoon yang pernah mengaku sebagai jaksa. Ji Hoon sebal, jangan membahasnya. Dia tengah memulai hidup baru. Hae Ra tak perduli, lagipula dia juga tidak akan mengatakan pada Soo Ho kalau dia pernah tertipu olehnya.

“Kenapa tidak?”

“Aku tak ingin dianggap bodoh.”


Sesi latihan berakhir, Ji Hoon pergi dari rumah Soo Ho. Sharon masih ada disana menunggunya dan mengajaknya untuk bicara. Ji Hoon awalnya menolak tapi Sharon membahas masalah Hae Ra.

Ia membawa Ji Hoon ke butiknya. Dia tahu kalau Ji Hoon sudah mencampakkan Hae Ra. Ji Hoon menghela nafas, dia menyesali keputusannya itu. Sharon mengatakan kalau semuanya belumlah terlambat. Ji Hoon bingung, bagaimana caranya? Bagaimana pula ia mengenal Hae Ra?

“Hidupnya terlihat menyedihkan, Jadi aku membuatkan beberapa pakaian. Beberapa waktu yang lalu...”


Ah.. Ji Hoon ingat kalau sebelumnya dia pernah mendengar suara itu. Hae Ra bisa menirukan suara Sharon dengan sangat mirip. Sharon mendelik marah, itu tidak penting, kenapa juga dia memotong ucapannya?

Ji Hoon meminta maaf dan menyuruhnya melanjutkan lagi ucapannya. Sharon berkata kalau Soo Ho dan Hae Ra tidak cocok. Jadi, jangan biarkan dia rusak. Mereka harus memisahkannya. Ji Hoon penasaran, bagaimana caranya?

“Aku punya ide.”


Saat minum teh, Hae Ra dengan hati-hati mengatakan ketidaknyamanannya berlatih fitnes dengan orang asing dirumah. Toh, dia juga anggota fitnes di tempat kebugaran depan kantornya. Soo Ho kelihatan cemburu, apa dia mirip dengan mantan pacarmu?

Anggap saja begitu, jawab Hae Ra. Soo Ho tak mempermasalahkannya, mau mirip atau memang dia mantan pacarnya, Soo Ho tak perduli. Hae Ra mungkin pernah terluka karena berkencan dengan orang jahat. 


“Itu keren. Lakukan hal yang sama pada pria lain. Aku juga tidak perlu memikirkan orang-orang jahat itu. Aku yakin bisa melindungimu. Apa ada hal lain yang ingin kau katakan?”

Hae Ra menggeleng. Baiklah, Soo Ho mengucapkan selamat malam. Dan untuk proyeknya, jangan terlalu banyak berharap. Hae Ra bingung, apa dia tidak yakin?

Bukannya tidak yakin, dia pikir Hae Ra berharap terlalu banyak. Tidak  kecewa terhadap kegagalan akan menjadikannya benar-benar kuat. Ia tahu karena ia sudah lama mengajak Hae Ra, dia kreatif tapi juga gampang bingung. Tapi sadarlah, dia benar-benar keren.

Soo Ho berjalan pergi. Hae Ra memanggilnya, “Soo Ho-yaah”


Soo Ho termenung mengingat masa remajanya. Hae Ra memanggilnya “Soo Ho-yaa”. Soo Ho tak terima, dia lebih tua dari Hae Ra, tak sopan memanggilnya begitu. Hae Ra tersenyum, dia akan memanggilnya seperti itu disaat ia bersyukur dan menganggapnya imut.


“Pilih yang mana?” tanya Soo Ho.

Hae Ra tersenyum karena Soo Ho masih mengingatnya. Dia akan memanggil Soo Ho begitu kalau ia menganggapnya adalah pria yang baik. Soo Ho masih bersikap dingin, dia masih saja kasar tapi dia akan membiarkannya untuk hari ini.


Hae Ra tersenyum mendengar ucapan Soo Ho. Soo Ho pun juga tersenyum bahagia saat berbalik meninggalkan Hae Ra.


Hae Ra mengingat kembali pertemuan dan perjalanan kisahnya dengan Soo Ho, “Sesuatu terjadi pada hidupku.”

Click to comment