While You Were Sleeping Episode 31

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS While You Were Sleeping Episode 31



Penulis Sinopsis: Chriselda
All images credit and content copyright: SBS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS While You Were Sleeping Episode 30
Pak Choi memberitahukan kepada Jae Chan dan Jaksa Lee untuk membuat, larangan Perjalanan untuk  Yoo Beum, Karena ketika Yoo Beom memberikan tumpangan kepada Pak Choi, Pak Choi melihat koper di dalam mobil Yoo Beum. Pak Choi yakin setelah sidang, Dia mungkin akan kabur keluar negeri.


Jaksa Lee kemudian meminta Jaksa Son dan Hee Min untuk membuat larangan perjalanan untuk Yoo Beom. Yoo Beom memandang mereka dengan curiga.


Hakim kemudian mempersilahkan Jaksa untuk memulai interogasi, Jaksa Jung meminta Woo Tak untuk menjelaskan kejadian di atap waktu itu, karena Woo Tak adalah orang pertama yang tiba.


Saat saya tiba, Terdakwa, Lee Yoo Beom, terisak saat membawa Nam Hong Joo,  Saya melihat dua payung terbuka dari kejauhan.


Jae Chan menunjukan barang bukti berupa foto dua payung, pada gagang payung terdapat sidik jari keduanya. Itu menunjukan Ha Ju Won ingin kembali turun bersama Yoo Beom, akan tetapi Yoo Beom membunuhnya. Hal ini bertentangan dengan keterangan terdakwa yang melakukannya untuk pertahanan diri. Payung yang dilihat dilantai satu dengan yang diatap adalah sama, bisa diidentifikasi oleh saksi. Jae Chan meminta Saksi untuk menjelaskannya.


“Payung pertama lebih panjang,  sedangkan yang kedua bisa dilipat.” Lalu Jae Chan bertanya “Apa warna payungnya?”.  Woo Tak meremas tangannya. Hong Joo terlihat khawatir.
Flasback


“Bagaimana kamu dapat melakukannya? Kamu akan menyembunyikan bahwa kamu buta warna? Jika mereka tahu kamu berbohong, kamu akan dihukum atas sumpah palsu” Tanya Hong Joo. “Aku tidak akan dihukum.” “Lalu apa kamu akan mengatakan kamu buta warna? Maka kamu akan dikeluarkan dari kepolisian” Tanya Hong Joo. Woo Tak tidak menjawab, hanya terseyum.
Flashback End



Jaksa Jung bertanya lagi “Saksi apa warna payungnya? ”
“Saya ..kurang bisa membedakan warna ”  Ucap Woo Tak. Semua orang mulai mempertanyakannya.  Lanjut Woo Tak, “saya tahu menjadi buta warna berarti saya tidak memenuhi syarat untuk ini. Setelah kesaksian saya berakhir. Saya akan langsung mengajukan surat pengunduran diri.” Jae Chan tak mampu berkata-kata, sampai menjatuhkan kertas, tangannya susah digerakan.



Jae Chan menguatkan dirinya untuk melanjutkan interogasinya “Tolong gambarkan payung yang anda lihat malam itu?” Namun Pengacara Ko berkata “Yang mulia, bahkan orang biasa tak bisa melihat payung itu pada malam hari dan dalam waktu yang singkat, apalagi saksi yang buta warna”. “Saya bukan tidak bisa melihat, saya hanya melihat dengan cara yang berbeda. Jadi kemampuan saya melihat pada malam hari lebih baik dari mereka” Ucap Woo Tak



Woo Tak mulai menggambarkan “Payung panjang yang saya lihat malam itu bergagang kayu, gagangnya mrlrngkung seperti tongkat. Payung lipatnya bergagang silinder. Ada dua lingkaran pada gagangnya. Payung panjang memiliki warna yang sama dengan dasi terdakwa. Payung lipat mempunyai warna  sama seperti dengan bagian depan jubah jaksa. Tapi lebih terang”


Jaksa Jung kemudian memperlihatkan payung-payung itu dan menanyakan “apakah payung-payung ini yang saksi lihat malam itu?” Saksi membenarkannya.  Hong Joo menangis mendengar pernyataan Woo Tak itu.
Episode 31
Selamat Tinggal Kawan


Sidang pun berakhir dengan agenda pemeriksaan para saksi, selanjutnya tinggal menunggu sidang Terakhir. Jae Chan masih susah menggerakan tangannya. Jaksa Lee mengatakan “Letnan Han akan kehilangan pekerjaannya untuk memberikan kesaksian”. Jae Chan mendapatkan pesan dari Woo Tak “Jangan canggung. Aku baik-baik saja. Mari berteman”


Pengacara Ko menyuruh Yoo Beom untuk mengumpulkan bukti bahwa perbuatannya itu tidak disengaja dan tidak usah mengatakan perbuatan itu adalah pertahanan diri, lebih baik mengurangi hukuman beberapa waktu. Pengacara Ko juga mengatakan Pengacara Seo yang akan menggantikannya untuk sidang selanjutnya “Bukankah mengurangi ”. Pengacara Ko pun pergi.


Hong Joo mencari Woo Tak, teman polisi Woo Tak sedang menangis sambil memarahinya. “Seharusnya kamu mengatakan tidak melihat apa-apa malam itu. Orang tuamu berternak untuk mendapatkan uang agar kamu bisa menjadi seorang polisi” Hong Joo hanya memandang dalam diam


Woo Tak mengatakan “aku bukan putra pertama dalam tiga generasi, orangtuaku juga tidak tinggal di desa, mereka bercerai dan menikah lagi. Jika aku mengatakan aku berhenti, mereka akan berkata,”Kamu Berhenti?” Itu saja.” Jawaban woo tak membuat temannya tak mampu berkata-kata lagi.


“Lencana ini.. tidak pernah.. cocok bagiku. Lencana ini selalu berat. Sulit.. tapi aku ingin menanggung bebannya. Aku ingin menikmatinya. Bekerja denganmu adalah kenangan yang menyenangkan bagiku.” Ucap Woo Tak pada temannya. Keduanya pun menangis.


“aku sudah cukup. Kurasa aku tidak seharusnya meminta lebih. ” ucap Woo Tak pada Hong Joo, Hong Joo menangis menitikan air mata.


Woo Tak berusaha tegar lalu memakai topinya dan memberi hormat kepada temanya. “Terima Kasih Pak” Mereka berdua berpelukan, menangis bersama. Hong Joo yang berdiri disana juga menangis.


Yoo Beom sedang berada di kamar mandi,  dia sedang mencuci tangan. Yoo Beom memandangi cermin dan mengatakan pada dirinya bahwa “semua akan baik-baik saja. Ini belum berakhir.” Ketika akan keluar, Yoo Beom menjatuhkan Passport dan tiket pesawatnya


Jaksa Son dan Hee Min sedang berusaha untuk meminta dibuatkan larangan berpergian untuk Lee Yoo Beom. Jaksa Lee mendapatkan pesan dari pacarnya kalau larangan bepergian untuk Yoo Beom telah disetujui. Pak Choi datang, Jae Chan mengucapkan terima kasih sudah datang. Jae Chan meminta Pak Choi untuk datang ke sidang selanjutnya. Pak Choi mengaku akan datang jika Jae Chan yang membacakan tuntutannya. Pak Choi pamit pergi.


Pak Choi bertemu dengan Yoo Beom. Yoo Beom marah kepada Pak Choi atas kesaksian yang diberikannya memberatkan Yoo Beom. Pak Choi mengatakan  “20 November 1983. Itu adalah hari lahirmu pengacara Lee”. “Iya benar, itu adalah hari ulang tahunku, bahkan kedua orang tuaku tidak mengingatnya. Tapi kamu selalu merayakan ulang tahunku. Tapi kenapa kamu melakukan ini?”


Pak Choi meminta Yoo Beom untuk jangan melarikan diri, tapi menepis tangannya. Pak Choi memandang Yoo Beom, tapi yang dilihatnya adalah adiknya “kamu hanya akan terluka dan menderita jadi berhentilah keras kepala. Berhenti menyakiti orang lain”


Jae Chan melihat Pak Choi yang sedang menasehati Yoo Beom. Jae Chan berjalan menghampiri pak Choi yang sedang memandangi dedaunan yang jatuh. Dari arah belakang sebuah mobil melaju dan menabrak Pak Choi, Jae Chan pun lari mendekatinya.  Jae Chan meminta untuk dipanggilkan ambulance


Ternyata yang menabrak Pak Choi adalah Yoo Beom. Jae Chan dan pak Choi sudah berlumuran darah Pak Choi mengatakan “Dahulu sekali, 13 tahun yang lalu. Aku melihat ini dalam mimpiku. Dalam mimpiku, kamu mengatakan sesuatu kepadaku.” 

“Pak Choi, jika anda bermimpi tentang ini, jangan menemuiku, jika anda menemuiku, anda tidak akan meninggal. Jadi jangan datang padaku”. “Kamu tidak mengatakannya seperti itu. Katakan.. katakana lagi, waktuku tak banyak”


“Pak Choi, Jika aku bertemu dengan anda lagi. Bodoh sekali aku tidak mengenalimu. Bagi anda, aku ceroboh dan menjengkelkan. Anda harus lembur karena kasus yang menumpuk. Kenapa kamu yang terluka? Sepatu baru anda rusak karena aku, anda menderita. Tapi meskipin begitu anda masih mempercayaiku. Jadi datanglah kepadaku. Aku akan banyak bertanya dan belajar dari anda. Aku akan sangat menghormati anda”


Pak Choi mengatakan “Jangan salahkah dirimu. Itu baru putra atasanku. ” Sambil tersenyum dan menutup mata
“Pak Choi jangan pergi.. aku mohon jangan pergi..” ucap Jae Chan sambil menangis terisak-isak.


“Meskipun hidup memberimu cobaan, jangan sedih atau marah. Hatimu hidup dimasa depan. Maka kini dirimu sedih. Semuanya hanya sesaat. Apa yang telah berlalu dan berlalu sekarang akan di kenang di masa depan”. Pak Choi muda, terbangun dari mimpinya, dia sedang berada di rumah sakit ditemani oleh seorang polisi. 


Pak Choi muda mengaku lapar. Pak polisi akan mengambilkan makanan tapi meminta pak choi muda untuk jangan melakukan hal-hal yang bodoh. Pak choi mengaku tidak akan melakukannya karena ada seseorang yang harus dia temui di masa depan.





Acara pemakaman Pak Choi diadakan. Hyang mi dan yang lainnya datang sambil menangis, Hong Joo juga datang membantu. Hong Joo melihat Jae Chan lalu mengikutinya, di sisi lain terlihat Hong Joo kecil sedang berjalan dan diikuti oleh Jae Chan kecil . Jae Chan kecil menemukan bola Basball. Hong Joo melihat sepatu dan mendapati Jae Chan sedang duduk sendirian. Jae Chan kecil mengambil bola itu dan memberikannya kepada Hong Joo kecil yang sedang duduk.

Hong Joo menatap Jae Chan yang sedang menangis dan duduk disampingnya. Begitu juga dengan Jae Chan kecil yang duduk disamping Hong Joo. Hong Joo memeluk Jae Chan yang menangis dalam pelukannya. Begitu juga dengan Jae Chan kecil yang memeluk Hong Joo kecil.
Bersambung...

Click to comment